.sahabat

.sahabat

Rabu, 04 Februari 2009

Suatu Saat

Aku bertemu dia lagi. Kali ini berlokasi di perpustakaan. Pertemuan yang tidak disengaja. Aku melihat dia bersama ketiga wanita-yang entah itu siapanya, aku rasa hanya teman. Oh semoga saja.

Saat itu aku bersama Embun. Sengaja Embun pilih tempat meja yang bisa menjangkau pandangan kami padanya. Tapi aku memilih untuk membelakangi dia. Suhu badanku mendadak turun drastis, peredaran darahku melambat, dan seluruh badanku gemetar tanpa sebab. Ralat, penyebabnya ada. Yaitu: dia.

"Ya udah santai aja. Lagian juga dia ngga, liat lo!" itu kata Embun.
"Dinamika badan gue udah gak jelas dan lo masih bilang san-tai?" tanyaku.
"Dia tuh lagi asyik ama laptopnya." Embun berujar.
Akupun mencoba melirik, oh untungnya aku sedikit terlindung oleh komputer-komputer informasi.
"Serius banget ya dia." kataku pelan.
"See?"
Aku mengangguk.

Lama aku mencoba menenangkan diriku. Tapi Embun menangkapku yang selalu tidak berhasil tenang dan selalu grasak-grusuk.
"Heh, tenang aja. Lagian dia kan duduknya jauh dari sini."
"Iyaa, tapi radiasinya!" jawabku pelan namun ada penekanan di sana.
"Lo pisitif thinking aja! Lagian dia juga santai kok. Kenapa lo harus salah tingkah?"

Owh.. apa yang diucapkan Embun langsung menusuk gue. Tapi ada benernya. Gue pun langsung meyakinkan diri, kalo sebenernya memang nggak ada hal yang membuatku seperti ini.

Dalam hati, "sial! Kenapa harus disaat seperti ini? Disaat aku yang tak menginginkan dia ada di sini. Godness! Harusnya aku bisa tau keberadaan dia lebih awal. Agar aku bisa menghindar darinya. Ternyata radar seperti itu, memang tak kumiliki sebelumnya."

Embun melirikku. Aku diam. Lagi dia melirikku.
Aku diam.

"Liatin dia donk. Bentar lagi kan dia lulus. Puas-puasin deh sana." ucap Embun.
Aku diam. Hanya menoleh ke belakang dan mencuri pandang melihat dia. Hanya beberapa saat. Karena kalau terlalu lama, aku yakin, aku akan segera gila.

***

Lepas dari radiasi mahadahsyat pria itu, aku bernapas lega. Membeli cemilan sebagai hadiah dari kelegaanku. Masih bersama Embun. Dekat parkiran, kami masih menyisakan sedikit perbincangan sebelum aku kembali ada kuliah.

"Senangnya, suhu badan dan peredaran darah gue udah kembali normal, Mbun." kataku sambil mengelus kedua lenganku sampai tangan.
Lalu apa jawab Embun, "mampus lo!" dengan pandangan mata bukan ke arahku.

Matakupun ikut lari menapaki arah pandangan Embun.
DAMN IT! Ternyata ada DIA!! Dia berjalan ke arah kami. Spontan semua keanehan pada tubuhku bergejolak lagi. Mendadak kacau semua sistem tubuhku. Cukup hitungan menit dia berada dekat dengan kami. Radiasi sial itu menyerangku lagi. Shit! Bikin aku nggak tau harus mikir apa, harus ngelakuin apa. Dia berjalan melintas di hadapanku dan Embun. Aku hanya diam. Benar-benar membisu. Sampai dia dan bayangannya serentak pergi, aku menunduk.

"Bodoh! Kenapa lo ga panggil dia?"
"..."
"Duh kenapa sih? Susah banget cuma tinggal manggil doank! Apa kek! Sapa-sapa apaa gitu. Ah payah lo! PAYAH! PA-YAH!"
"Gue nggak bisa. I mean, gue nggak tau harus ngapain."
"Payah lo! Padahal santai aja! Sok asyik aja ama orang macam dia mah!"
"Ha?" Embun, aku nggak bisa. Kamu kan tau kalo dalam situasi seperti itu, seluruh sistem tubuhku nggak bisa bekerja dengan baik.
"Lo harusnya nyoba buat manggil dia! Kapan lagi?! Bentar lagi dia lulus, Rai! Luluus!!" bentak Embun.
Benar sekali, Mbun. Aku memang bodoh dan payah! Kenapa ya sulit sekali untuk bisa merealisasikan perkataan Embun. Padahal hatiku juga menyetujuinya. Mendengar tentang kisah yang hampir sama-yang pernah terjadi pada Embun, aku hanya diam merenung. Wajahku terasa panas. Mataku mulai melamur karena air mata. Lalu kuteguhkan hati, suatu saat aku akan katakan padanya, kalau aku mencintainya.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar