"Pokoknya kamu harus pindah ke Bandung, Lara..
"Ga mungkin Ibu ninggalin kamu sendirian di Jakarta..
"Please, Lara.. Mengerti Ibu sekali ini..." Ibu Lara memohon.
"Bu, Lara suka kota ini.. Lara mau tinggal di Jakarta.
"Lara mau selsein kuliah Lara, Bu. Lara ga mau pindah Kampus lagi.." Lara.
"Ibu bisa atur semua itu, Lara. Di Bandung, banyak Universitas yang bisa kamu pilih.
"Ini demi karier Ibu, demi Bapak, demi kita semua, Lara.."
-tuut..tuut..tuut-
"APA?? BANDUNG??"
Lara terus berfikir, apa jadinya bila Ia meninggalkan Jakarta.
Bagaimana kuliahnya yang baru saja di mulai di kampus baru, bagaimana dengan teman-temannya, dan Lara berfikir; bagaimana cara pengobatannya di Bandung kelak?
Lara merasa kepalanya semakin berat, kepalanya sakit bagai di hujam belati.
Lara membuka almari yang tepat berada di sebelah kanannya, dicarinya sebuntelan obat yang sengaja ia sembunyikan di dalam sana.
Dengan doa yang sedikit memaksa pada Tuhan.nya Lara, Lara menarik nafasnya perlahan dan menelan 2 butir obat yang terasa pahit.
Sementara ia tak bisa tenang, obat yang berdosis 250mg itu memaksa Lara untuk tertidur. Tidak tenang.
***
"Lara, aku jemput kamu di rumah kamu ya.." Langit.
"Hah? Emm, saya.. Saya sibuk hari ini, jadwal ngampus padet, Lang.." Lara.
"Loh koq.. Ini kan hari Minggu, emang ada yang ngampus kalo hari Minggu, La?"
-Lara mendadak kelimpungan salahtingkah mencari alasan, sementara Langit cekikikan di seberang telp sana.-
"Hahaha.. Kamu ini yah, jangan salting gitu ah, aku jadi malu nih.." Masih Langit.
"eh, iya ya.. heuu.. Saya lupa ini hari minggu.." Lara menutup matanya dan memukul-mukul jidatnya dengan lengannya secara lembut. Bentuk penyesalan dari kelakuan bodoh sebelumnya.
"Oke, satu jam lagi aku udah nyampe rumah mu.."
"eh, emm.. ehem.. tapi..."
"Bye, Honey! Love you... Muah!" Langit mengakhiri telp nya.
***
"Lara.."
". . ."
"La--raa"
". . ."
"iiihh, Laraaaaaa!"
"hm..."
"Banguun!!!"
"sayang kamu juga koq, Lang.."
"LARA!!!!! INI NESTAAAAAA!!! BANGUN!!!!"
". . ."
"Laaaaa!!" Nesta menarik lengan Lara sampai Lara terduduk dan...
"Mana malingnya?!?!? Mana?!??! Biar gua aja yang gebukin... Mana?!?!?!" Lara terbangun panik dan dengan semangat yang menggebu-gebu.
"hahhaha.. Laraa!! Mimpi apa si lo?" Nesta.
"haah, lo lagi, Nes.. Ngapain si ganggu mulu??? Lagi mimpi Indah tau! Ga Cihuy lo!"
"Lagian, udah jam berapa ni? Katanya mau ke kwitang. Mandi gih!"
"Iya, tapi ga perlu ganggu mimpi gua dong.. Kentang* deh gua.."
"idih, mimpi apa si lo??"
"adaaaa deehhh.." Lara tersipu dan menutup badannya dengan selimut lagi.
"La, mimpi jorok ya, La? Idih, sama sapa, La?"
"hmm..."
"Lang. Tadi lo sebut-sebut 'Lang', siapa Lang?"
Sontak otak Lara mengulang memori pertemuan pertama dia dengan Langit.
"La, siapa?!?!??!" Nesta semakin penasaran.
"eh, itu.. Lang, Elang maksut gua. Lo tau Elang Dharsono Suryo Hartanto??"
"hah? siapa tuh?"
"Tau, gua juga ga kenal.. haha. Udah ah, mandi duluuu...."
"rese lo, La!"
*
Lara tak habis pikir, ada apa ini?
Lara menulis dalam kamar mandinya.
Langit. Siapa dia?
Mengapa ada dia di mimpi ku?
Aneh, seharusnya tidak ada mimpi semacam itu.
Kita hanya bertemu satu kali dan sedikit bicara.
Ya, meskipun sorot matanya sangat menenangkan.
Tapi, kenapa dia?
Langit. Siapa dia?
Aku tak lebih tau dari sebatas nama.
Langit, berani sekali dia!
*LARA*
.sahabat
Minggu, 01 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar