.sahabat

.sahabat

Minggu, 31 Mei 2009

Asapnya Berbicara


















Ketika asap itu mengepul.
Lihat latar objek ini.

Surat yang Tertunda

Berikan malam ini untukku Terangi tiap langkah jalan hidupku Biar kudengar suaramu Biar kurenung katamu Akan...Akankah waktumu untukku Tinggalkan memori terindah selalu Dari semua yang ada Kau biarkanku memilih Kapanpun aku yakini Kau yang pertama slamanya

Di manapun ku katakan Kau yang aku..cinta Kan akankah waktumu untukku Tinggalkan memori terindah selalu Dari semua yang ada Kau biarkanku memilih Kapanpun aku yakini Kau yang pertama slamanya Di manapun kukatakan Kau yang aku..kau yang aku cinta

Engkau lah sahabat yang kunanti DI saat kujatuh tak berdaya Akan kukatakan pada dirimu Terima kasihku untuk semuanya
(Kau yang Kucinta-Agnes Monica)

Saya sedang mendengarkan lagu ini dan memutuskannya untuk saya putar berulang-ulang. Mendadak hati jadi sedih. Teringat seorang sahabat yang sudah lama hilang dari peredaran bumi. Entah badai atau bencana apakah yang menghalangi saya dengannya, hingga ia lupa dan menjelma menjadi seseorang yang tak lagi saya kenal. Memang singkat pertemuan saya dengannya. Tapi justru dalam waktu yang singkat, saya merasakan dia adalah bagian dari saya. Saya merasakan ada banyak kesamaan pikiran dengannya bahkan terkadang kami berpikir bahwa kami ini adalah anak kembar yang terlahir beda rahim dan beda benih.

Jujur, saya sedih. Mengingat permasalahan ini adalah lelucon yang sagat tidak sehat buat saya tanggapi. Karena sudah terlalu kompleks dan banyaknya aktor lain yang ikut campur--yang tentu saja membuat masalah semakin runyam. Jika teringat ketika kabur enam jam dari Bandung bersamanya, saya merasa itu adalah kenangan terindah bersamanya. Dia, apa ingat?

Terlepas apa yang pernah terjadi antara saya dan dia, saya tetap meyakininya bahwa semua ini pasti salah paham. Semua ini buruk akibat orang lain yang tidak suka dengan hubungan pertemanan kami yang memang selama ini baik. Saya tidak peduli apa yang orang lain katakan tentangnya. Karena pasti orang-orang itulah yang membuat saya dan dia menjadi jauh.




Buat sahabat saya,

saya tau dan yakin, ini pasti salah paham. Kamu juga pasti bisa menimbangnya dan menilainya lebih baik lagi. Saya ingin sekali bicara dengan mu. Hanya kamu dan saya. Untuk bisa menyampaikan apa yang belum saya sampaikan padamu. Kalaupun memang masih ada kesempatan untuk semua menjadi lebih baik, mengapa tidak. Kamu ingat kan apa yang pernah kita bicarakan pada saat kita sedang dalam kereta ekonomi padalarang-cicalengka? Saya tak mungkin lupakan itu.
Kita ini sahabat dan selamanya sahabat.

Saya mungkin pengecut. Katakanlah begitu. Tapi pasti dia mengerti, saya memang seperti ini. Dia juga pasti tau, bahwa tidak ada cara yang lebih baik selain 'bicara'.