.sahabat

.sahabat

Sabtu, 14 Februari 2009

Tak Terelakkan

Aku kehilangan pikirku dan angin bertiup begitu kencang menyibak rambutku juga hatiku sekaligus. Kuputuskan untuk tidak melanjutkan kelas terakhir. Aku pulang. Kembali ke sarangku. Ternyata mendung datang dan sekejap hujan turun. Turun sangat deras.

"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih hujan."

Aku menengadahkan kepalaku untuk beberapa saat. Kubawa motorku pelan. Kurasakan tubuhku yang mulai basah. Kurasakan pandanganku yang melamur. Entah oleh hujan ataukah air mata?

Aku suka hujan. Hujan selalu datang dan berkisah tentang berbagai hal. Kali ini ia turun, karena ingin menghibur aku. Membantu meluruhkan semua pikirku tentang dia. Tentang dia yang tak pernah menganggapku ada.

Semua tak terelakkan. Sudah terlanjur mungkin buat aku dapat senyummu. Jawaban itu aku ambil sendiri. Tanpa perlu diucap, (mungkin) aku tau. Berharap, aku tidur cepat hari ini. Dan bersiap menyambut hari penuh kejutan yang membuat aku panik dan selalu ingin muntah dibuatnya. Ah, potongan hati ini sulit untukku. Hujan, jangan berhenti menghujaniku.

Sebelumnya, terima kasih untuk mereka yang sudah memberiku semangat tiada henti dan tak henti bertanya-tanya mengapa tulisanku akhir-akhir ini adalah tentang kesedihan, keputus-asaan, dan kesia-siaan. Meski harusnya lebih tepat, pertanyaan tentang kapan aku selesai bercerita kisah cengeng seperti ini.

Maaf, kalau ada mereka yang menganggap ini bukan aku. Tapi seperti itulah sekarang. Aku berubah oleh waktu, mungkin sama seperti dia juga. Tapi aku berharap, semoga ini hanya untuk saat ini dan aku kembali seperti aku yang kalian maksud. Satu hal, aku memang begini adanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar