Semua ditarik paksa oleh pusaran kemunafikan.
Mungkin salah satunya adalah aku.
Kepura-puraan yang membuat aku mendengus setiap kali mendapatinya.
Hingga sumpah serapah makian tertuju untuk dia yang munafik.
Ya, dia yang juga sama sepertiku.
.sahabat
Senin, 23 Maret 2009
Minggu, 01 Maret 2009
bimbang Lara..
Lara mulai melihat bayangannya di cermin..
tampak wajahnya semakin putih, pucat.
di tangannya ada sebutir kapsul berwarna merah muda dan krem..
Lara menyentuh pipinya dengan tangan satunya..
Lalu beranjak menyentuh cekungan di bawah matanya yang semakin hari semakin menghitam..
Merasa malas untuk berfikir lagi, Lara meminum pil tersebut dengan sedikit menarik nafas dalam. Ia teringat akan ucapan dokternya.
"Lara, kamu harus teratur minum obatnya ya, biar cepat sembuh..."
Kembali, cermin memantulkan wajahnya yang kian kuyu dan pucat.
Kali ini Lara melarutkan obatnya di dalam gelas.
Selagi menunggu, Lara melihat handphonenya. Pikirannya terbang ke suatu tempat yang cukup jauh dari tempatnya sekarang.
Ia termenung setengah melamun, memikirkan apa yang sedang ia lakukan disana, apakah dia baik-baik saja? Ah, Lara yakin sekali bahwa Lara merindukannya.
Namanya Michael Karendra Ledoux..
Pria ini terlahir begitu menawan hingga ia bisa mengganggu kehidupan Lara. Lara mengenalnya lewat jejaring pertemanan. Lara begitu mengaguminya tetapi ia tak pernah sekalipun mengungkapkannya, selalu saja ia membuang kesempatan dengan percuma.
Hingga akhirnya obat yang dicairkan itu harus segera di minum, Lara berhenti memikirkan MIchael.
Lara bingung sekaligus putus asa dengan semua yang ia alami saat ini.
Ibunya meminta ia supaya ikut pindah ke Bandung, kota yang memang ia damba sejak dulu tapi tidak untuk saat ini.
Ibu Lara seorang wanita Karier yang tegas dan berjiwa diplomatis sangat dasyat. Lara terkadang beradu argumen yang berakhir hawa-hawa tak mengenakan. Sesungguhnya Lara sangat mengasihi ibunya tetapi cara apa yang harus Lara tunjukan, ia sama sekali tidak punya ide apapun..
Sementara itu, pengobatan Lara yang harus dilakukan secara kontinyu memaksa Lara untuk mau tidak mau stay. Lara sangat bersemangat untuk dapat kembali sembuh untuk itu ia kerja keras.
Lara seolah dijebak di dua pilihan yang sangat menyulitkan. Ia berfikir keras bagaimana cara yang paling aman dan tepat untuk menyiasati keadaan ini.
Keadaan seperti ini tidak membuat LAra semakin membaik.
Terasa sudah sakit di kepalanya semakin menjadi, ia memutuskan untuk beristirahat dengan paksaan.
Oh, rupanya obat Lara yang sedikit banyak mengandung psikotropik itu sedang bereaksi. Mata Lara rasanay sangat berat hingga akhirnya ia pun merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Kepalanya di ganjal oleh bantal agak tinggi.
Langit-langit di kamarnya membuat Lara semakin pusing dan akhirnya Lara tidur dengan paksa.
*** bersambung ***
tampak wajahnya semakin putih, pucat.
di tangannya ada sebutir kapsul berwarna merah muda dan krem..
Lara menyentuh pipinya dengan tangan satunya..
Lalu beranjak menyentuh cekungan di bawah matanya yang semakin hari semakin menghitam..
Merasa malas untuk berfikir lagi, Lara meminum pil tersebut dengan sedikit menarik nafas dalam. Ia teringat akan ucapan dokternya.
"Lara, kamu harus teratur minum obatnya ya, biar cepat sembuh..."
Kembali, cermin memantulkan wajahnya yang kian kuyu dan pucat.
Kali ini Lara melarutkan obatnya di dalam gelas.
Selagi menunggu, Lara melihat handphonenya. Pikirannya terbang ke suatu tempat yang cukup jauh dari tempatnya sekarang.
Ia termenung setengah melamun, memikirkan apa yang sedang ia lakukan disana, apakah dia baik-baik saja? Ah, Lara yakin sekali bahwa Lara merindukannya.
Namanya Michael Karendra Ledoux..
Pria ini terlahir begitu menawan hingga ia bisa mengganggu kehidupan Lara. Lara mengenalnya lewat jejaring pertemanan. Lara begitu mengaguminya tetapi ia tak pernah sekalipun mengungkapkannya, selalu saja ia membuang kesempatan dengan percuma.
Hingga akhirnya obat yang dicairkan itu harus segera di minum, Lara berhenti memikirkan MIchael.
Lara bingung sekaligus putus asa dengan semua yang ia alami saat ini.
Ibunya meminta ia supaya ikut pindah ke Bandung, kota yang memang ia damba sejak dulu tapi tidak untuk saat ini.
Ibu Lara seorang wanita Karier yang tegas dan berjiwa diplomatis sangat dasyat. Lara terkadang beradu argumen yang berakhir hawa-hawa tak mengenakan. Sesungguhnya Lara sangat mengasihi ibunya tetapi cara apa yang harus Lara tunjukan, ia sama sekali tidak punya ide apapun..
Sementara itu, pengobatan Lara yang harus dilakukan secara kontinyu memaksa Lara untuk mau tidak mau stay. Lara sangat bersemangat untuk dapat kembali sembuh untuk itu ia kerja keras.
Lara seolah dijebak di dua pilihan yang sangat menyulitkan. Ia berfikir keras bagaimana cara yang paling aman dan tepat untuk menyiasati keadaan ini.
Keadaan seperti ini tidak membuat LAra semakin membaik.
Terasa sudah sakit di kepalanya semakin menjadi, ia memutuskan untuk beristirahat dengan paksaan.
Oh, rupanya obat Lara yang sedikit banyak mengandung psikotropik itu sedang bereaksi. Mata Lara rasanay sangat berat hingga akhirnya ia pun merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Kepalanya di ganjal oleh bantal agak tinggi.
Langit-langit di kamarnya membuat Lara semakin pusing dan akhirnya Lara tidur dengan paksa.
*** bersambung ***
Langganan:
Postingan (Atom)