.sahabat

.sahabat

Senin, 31 Agustus 2009

Ke mana?

Mengejar senja dan hari Rabu yang aku rindukan.
Seperti kamu tahu, aku sangat terbuka untuk segala kemungkinan.
Termasuk kembali menerimamu dan persahabatan yang tertunda.
Aku tak mau lihat sekelilingmu.
Karena kamu tahu bagaimana aku.
Aku bukan dia atau mereka yang pernah sebut sampah.
Karena kamu tahu, kita adalah sampah.
Sampah-sampah yang menyampah setiap Rabu senja.
Kita harus bicara, kita harus selesaikan.
Aku sayang sama kamu.
Terlepas apa yang pernah terjadi antara kamu dan aku.
Semua tahu hanya khilaf, dan aku tak pernah mau lagi ingat itu.
Mungkin beda, tapi tak harus hilang.
Aku tunggu jawabanmu,
sama seperti seseorang yang sedang menanti jawaban dari pacarnya.
OK, ini berlebihan. Kamu boleh ketawa untuk itu.
Tapi aku tidak. Karena sungguh ini aku lakukan.
Demi semua yang pernah indah di antara kita.

Kamis, 23 Juli 2009

maaf..

bukan saatnya lagi untuk bilang mana yang salah dan mana yang benar..

getir ini sudah menegak terlalu banyak alkohol..
hampa ini sudah diasapi berbagai puntung rokok..

saya ini hanya penggalan kemunafikan yang kalian benci.

mungkin saya ini adalah wanita licik yang kamu, dia dan mereka pikir..
mungkin saya hanya pengacau yang tidak diharapkan oleh siapapun..

mungkin, ketika saya meminta maaf.. itu akan terdengar seperti sebuah lelucon brutal yang dikeluarkan oleh mulut kecil yang penuh sampah ini..

sungguh..
saya benar-benar menyesal dan meminta maaf..


Saya rindu kalian..


saya rindu obrolan bodoh tentang menari duabelas cd di taman fisip.
saya rindu melihat muka kita semua ketika melihat garlic bread buatan tizi.
saya rindu celetukan tajam yang tiba-tiba membuat kita semua tertawa menggelegar..


saya rindu pada yang dulu saya panggil sahabat.

maafkan saya yang terlalu hina ini..

saya sayang kalian..

Minggu, 31 Mei 2009

Asapnya Berbicara


















Ketika asap itu mengepul.
Lihat latar objek ini.

Surat yang Tertunda

Berikan malam ini untukku Terangi tiap langkah jalan hidupku Biar kudengar suaramu Biar kurenung katamu Akan...Akankah waktumu untukku Tinggalkan memori terindah selalu Dari semua yang ada Kau biarkanku memilih Kapanpun aku yakini Kau yang pertama slamanya

Di manapun ku katakan Kau yang aku..cinta Kan akankah waktumu untukku Tinggalkan memori terindah selalu Dari semua yang ada Kau biarkanku memilih Kapanpun aku yakini Kau yang pertama slamanya Di manapun kukatakan Kau yang aku..kau yang aku cinta

Engkau lah sahabat yang kunanti DI saat kujatuh tak berdaya Akan kukatakan pada dirimu Terima kasihku untuk semuanya
(Kau yang Kucinta-Agnes Monica)

Saya sedang mendengarkan lagu ini dan memutuskannya untuk saya putar berulang-ulang. Mendadak hati jadi sedih. Teringat seorang sahabat yang sudah lama hilang dari peredaran bumi. Entah badai atau bencana apakah yang menghalangi saya dengannya, hingga ia lupa dan menjelma menjadi seseorang yang tak lagi saya kenal. Memang singkat pertemuan saya dengannya. Tapi justru dalam waktu yang singkat, saya merasakan dia adalah bagian dari saya. Saya merasakan ada banyak kesamaan pikiran dengannya bahkan terkadang kami berpikir bahwa kami ini adalah anak kembar yang terlahir beda rahim dan beda benih.

Jujur, saya sedih. Mengingat permasalahan ini adalah lelucon yang sagat tidak sehat buat saya tanggapi. Karena sudah terlalu kompleks dan banyaknya aktor lain yang ikut campur--yang tentu saja membuat masalah semakin runyam. Jika teringat ketika kabur enam jam dari Bandung bersamanya, saya merasa itu adalah kenangan terindah bersamanya. Dia, apa ingat?

Terlepas apa yang pernah terjadi antara saya dan dia, saya tetap meyakininya bahwa semua ini pasti salah paham. Semua ini buruk akibat orang lain yang tidak suka dengan hubungan pertemanan kami yang memang selama ini baik. Saya tidak peduli apa yang orang lain katakan tentangnya. Karena pasti orang-orang itulah yang membuat saya dan dia menjadi jauh.




Buat sahabat saya,

saya tau dan yakin, ini pasti salah paham. Kamu juga pasti bisa menimbangnya dan menilainya lebih baik lagi. Saya ingin sekali bicara dengan mu. Hanya kamu dan saya. Untuk bisa menyampaikan apa yang belum saya sampaikan padamu. Kalaupun memang masih ada kesempatan untuk semua menjadi lebih baik, mengapa tidak. Kamu ingat kan apa yang pernah kita bicarakan pada saat kita sedang dalam kereta ekonomi padalarang-cicalengka? Saya tak mungkin lupakan itu.
Kita ini sahabat dan selamanya sahabat.

Saya mungkin pengecut. Katakanlah begitu. Tapi pasti dia mengerti, saya memang seperti ini. Dia juga pasti tau, bahwa tidak ada cara yang lebih baik selain 'bicara'.

Kamis, 23 April 2009

Cinta Itu Seperti Bola (Chapter 4)

Bulan penuh pertandingan bola memang ditunggu-tunggu banyak orang. Termasuk aku yang cukup menyukai pertandingan sepak bola. Bulan ini stasiun TV banyak dipenuhi dengan liputan Euro Cup. Yes! Itali ku tercinta ada pastinya. Dan pastinya aku akan setia menonton pertandingan itu.
jam menunjukan pukul 2 subuh, waw, is it great? Aku beranjak dari tempat tidur menuju ruang TV dan menyalakan laptopku. Yaaa itu kebiasaan ku, menonton ditemani laptop yang dipastikan online, sebagai peneman kalau diriku merasa ketakutan pastinya.

Okeh, sudah pukul 3, 1 babak sudah terlewati. Well, kenapa aku jadi ketakutan sendiri ya? Ahhh kenapa mustin nonton sendiri sih? Haahhh..
Disebrang sana Cahaya sedang menonton bersama teman-temannya dan sedang chatting bersama ku juga tentunya. Tapi saat itu, menit itu, detik itu juga aku benar-benar merasa ketakutan dan feeling ku mengatakan sesuatu yang tidak bagus dan ada baiknya aku tidur saja. Dengan segala ketakutan dan gemetar yang memenuhi tubuh, aku langsung sign off tanpa pamit kepada sahabatku Odie ataupun Cahaya.
Aku merasa tidak enak off secara tiba-tiba dan aku mengetik sebuah pesan untuk seseorang.

To : Cahaya
Ya Ya Ya sorry lgsg off ketakutan gw.

Setelah pesan terkirim, aku langsung berjalan menuju tempat tidur dan memejamkan mata mencoba untuk tidur tapi rasa takut itu masih menghatuiku dan membuatku tidak tenang memejam mata.
Hapeku bergetar

From : Cahaya
yah dsr bocah penakut!

What?! Kurang ajar nih orang memang. Aku panas, tapi masih ketakutan pastinya.

To : Cahaya
Bawel bgt sih lo! Berisik!! Gw mau tidur aj. Diem.

From : Cahaya
Nad..nad..mdg lo matiin lampu aj biar tidurny tnng trs lo liat ddpn pintu lo ad putih2 kpalany diiket, ky pocong gt..
Saat membaca sms itu dengan bodohnya aku melihat kea rah pintu dan membayangkan sesuatu yang membuat ku semakin ketakutan. OH SHIT!!! SUMPAH NIH MANUSIA TEGA BANGET SAMA GUE YANG LAGI KETAKUTAN!!!! Seketika aku ingin menangis. Dengan gemetar aku mengetik sms balasan untuk Cahaya.
To : Cahaya
Ya tega bgt sih lo sm gw. Mw nangis gw.

From : Cahaya
hahahahha bercanda sayang, udah tidur gih

Ohh nooo, aku melayang. Tetep aja ngeselin! Huh. Ga usah dibales ah..
Aku pun mencoba untuk terpejam hingga akhirnya seorang malaikat mengajak ku pergi ke dunia mimpi yang tidak seseram perasaan ku sebelum tidur.

Senin, 23 Maret 2009

Munafik

Semua ditarik paksa oleh pusaran kemunafikan.
Mungkin salah satunya adalah aku.
Kepura-puraan yang membuat aku mendengus setiap kali mendapatinya.
Hingga sumpah serapah makian tertuju untuk dia yang munafik.
Ya, dia yang juga sama sepertiku.

Minggu, 01 Maret 2009

bimbang Lara..

Lara mulai melihat bayangannya di cermin..
tampak wajahnya semakin putih, pucat.
di tangannya ada sebutir kapsul berwarna merah muda dan krem..
Lara menyentuh pipinya dengan tangan satunya..
Lalu beranjak menyentuh cekungan di bawah matanya yang semakin hari semakin menghitam..
Merasa malas untuk berfikir lagi, Lara meminum pil tersebut dengan sedikit menarik nafas dalam. Ia teringat akan ucapan dokternya.

"Lara, kamu harus teratur minum obatnya ya, biar cepat sembuh..."

Kembali, cermin memantulkan wajahnya yang kian kuyu dan pucat.
Kali ini Lara melarutkan obatnya di dalam gelas.
Selagi menunggu, Lara melihat handphonenya. Pikirannya terbang ke suatu tempat yang cukup jauh dari tempatnya sekarang.

Ia termenung setengah melamun, memikirkan apa yang sedang ia lakukan disana, apakah dia baik-baik saja? Ah, Lara yakin sekali bahwa Lara merindukannya.

Namanya Michael Karendra Ledoux..
Pria ini terlahir begitu menawan hingga ia bisa mengganggu kehidupan Lara. Lara mengenalnya lewat jejaring pertemanan. Lara begitu mengaguminya tetapi ia tak pernah sekalipun mengungkapkannya, selalu saja ia membuang kesempatan dengan percuma.

Hingga akhirnya obat yang dicairkan itu harus segera di minum, Lara berhenti memikirkan MIchael.

Lara bingung sekaligus putus asa dengan semua yang ia alami saat ini.
Ibunya meminta ia supaya ikut pindah ke Bandung, kota yang memang ia damba sejak dulu tapi tidak untuk saat ini.
Ibu Lara seorang wanita Karier yang tegas dan berjiwa diplomatis sangat dasyat. Lara terkadang beradu argumen yang berakhir hawa-hawa tak mengenakan. Sesungguhnya Lara sangat mengasihi ibunya tetapi cara apa yang harus Lara tunjukan, ia sama sekali tidak punya ide apapun..

Sementara itu, pengobatan Lara yang harus dilakukan secara kontinyu memaksa Lara untuk mau tidak mau stay. Lara sangat bersemangat untuk dapat kembali sembuh untuk itu ia kerja keras.

Lara seolah dijebak di dua pilihan yang sangat menyulitkan. Ia berfikir keras bagaimana cara yang paling aman dan tepat untuk menyiasati keadaan ini.

Keadaan seperti ini tidak membuat LAra semakin membaik.
Terasa sudah sakit di kepalanya semakin menjadi, ia memutuskan untuk beristirahat dengan paksaan.
Oh, rupanya obat Lara yang sedikit banyak mengandung psikotropik itu sedang bereaksi. Mata Lara rasanay sangat berat hingga akhirnya ia pun merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Kepalanya di ganjal oleh bantal agak tinggi.
Langit-langit di kamarnya membuat Lara semakin pusing dan akhirnya Lara tidur dengan paksa.

*** bersambung ***