.sahabat

.sahabat

Senin, 16 Februari 2009

Julukan Indah (chapter 3)

Siang hari itu memang perlu diakui panaaasss banget, ditambah lagi ngeliat si acun *sebutan buat si adik kelas tercintahuekhuek yang kaya acun* bergaya-gaya bak model majalah cosmos bukan cosmo. Tapi terpaksa bersabar karna kata sahabat saya orang sabar pantatnya lebar, sedangkan dia saking sabarnya ampe giginya maju, fiuhhh hidup memang kejam ya Die hehehe..
Claudia biasa dipanggil Odie dan Tika yang selalu bersama saya berbuat tidak senonoh pada sekolah buluk kita bersama.

Sesampai dirumah jelas sekali rumah gue sepi, gue ampe bingung ini gue tinggal diperumahan ato kuburan sih? Ga pagi ga siang ga malem samaaaa aja. Sepi mampus! Okeh, nyalakan laptop bututut, bukan laptopnya Bu Tutut loh!
Hemmmm... ga ada yang bisa diajak ngobrol nih, pikirku..
bluffingout : hei
ooowww, ada yang nyapa. Cahaya. Heeemmmmm..
lantunanada : hello (:
bluffingout : lagi ngapain?
lantunananda : baru pulang sekolah hehe lo lagi ngapain?
basa-basi yang biasa gue lakukan biar ga dibilang suombong.
bluffingout : lagi nunggu kuliah
bluffingout : eh gue off ya, dosen gue dateng dah
lantunanada : bye
Dasar aneh, pikirku. Aku melanjutkan searching ku terhadap sesuatu yang tidak jelas. Memang tidak jelas hidup ku ini..

bluffingout : eh eh
lantunanada : lahhhh ko lo lagi??!!
bluffingout : kenape? ga boleh??
lantunanada : cuman nanya sih
bluffingout : eh bocah
lantunanada : eh kurang ajaaarrrrr..bocah bocah
bluffingout : kan memang lo bocah, masih SMA, bau seragam.
lantunanada : eh lo juga masih bau seragam tau ga?? Baru lulus berapa bulan yang lalu aja bawel.
bluffingout :biarin yang penting udah ga pake seragam udah ga bau matahari kaya lo.
anjrittt belagu bener nih orang dah!
lantunanada : bawel lo
bluffingout : caahhh cahhh..bocah..
lantunanada : bawel!
bluffingout : bocah ingus ijo
lantunanada : WHAT?!! BOCAH INGUS IJO?! gue ga ingusan yeeee!!!
bluffingout : ihhh ade sini sini itu ingusnya dibersihin dulu, jorok ih main sana sini tapi ingusnya meler gitu, sini dibersihin dulu.
lantunanada : AAAAAAAAAAAAAAA BAWEL LO!!!!!!
gue kesel, langsung sign out aja. Terserah lo mau kata apa dah..

Aku benar-benar kesal dan memutuskan untuk refreshing saja ke Mall terdekat dari rumah ku. Aku berjalan keluar perumahan dan menaiki angkot merah yang membawaku ke Mall tujuanku..

Awal Perbincangan (chapter 2)

bluffingout : hai
Aku terdiam. Heemm siapa ya ini, nampaknya aku mengenal ID ini
lantunanada : hello (: maaf ini siapa?
bluffingout : ini Cahaya. Ini Nada kan?
lantunanada : yapp. Cahaya yang mana ya?
Aku mencoba mengingat-ingat dirinya
bluffingout : Cahaya yang temennya Andre
lantunanada : oohh iya iya inget inget, salam kenal.
Sejujurnya aku tidak ingat dia itu siapa, tapi sudahlah aku katakan saja aku ingat agar semuanya cepat selesai. Obrolan saat itu mengalir begitu cepat, sekarang aku tahu, dia seseorang yang berumur setahun lebih tua disbanding aku dan sedang menuntut ilmu di sebuah universitas cukup ternama di Bandung. Well perkenalan yang cukup menyenangkan. Nice to know you, Ya.

Wait, Cahaya ini wanita atau pria ya? Heemmmm.. masa gue tanyain sekarang sih? Gilaaa pembicaraan udah sampe Z gini masa baru nanya dia cewek ato cowok. Roman-roman yang bernama Cahaya sih cewek..tapi kenapa feeling gue bilang dia cowok ya?

lantunanada : emmm Ya, mau Tanya donk..
bluffingout : apa?
lantunanada : lo tuh cewek ato cowok ya? hehehehe
lantunanada : soalnya kakak sepupu gue yang namanya Cahaya tuh cewek..
Setelah mengetik dengan perasaan takut, aku berfikir apa benar aku punya kakak sepupu bernama Cahaya. Nampaknya kata-kata ku tadi hanyalah alibi..
bluffingout : gue cowok
OH! Cowok. Feeling yang tepat sekali Nada! Kayanya gue bisa buka stand ramal meramal, feeling memeeling deh *maksa
lantunanada : hehehe sorry yaaa (:

Aku pergi meninggalkan laptop itu dan mencoba mencari aktifitas lainnya. Aku memandang ke jendela luar dan melihat seseorang berdiri tepat didepan jendela ku.

"Naaaddd!!! Keluar donk! Laperr!!!" teriak orang di bawah sana.
"Lahhh..laper ya makan lah, ngapain lo malah kesini??" ucap ku bingung dan terkesan cuek
"Temenin kek!" teriak Ara, teman ku dari aku TK.
"Ohhhh bilang doonnkkkk!"
Aku kembali ke laptop ku untuk menidurkannya. Aku mengetik pesan di messengerku yang ditujukan untuk Cahaya.
lantunanada : Ya gue pergi dulu ya..
lantunanada : nice to know you (:
Tanpa menunggu jawabannya, kutekan tombol turn on/off laptopku dan ku putar track pad mouse ku dan ku klik sleep. Laptop ku tertidur. Aku berjalan menuju pintu dan pergi keluar untuk menemani Ara makan..

Sabtu, 14 Februari 2009

Life is So Unfair

Sebenarnya aku tidak suka dengan pernyataan itu. Tapi kali ini aku setuju. Mereka tidak tau, disaat genting seperti ini, aku tanpa sadar malamun tolol tentang semua kejadian itu. Mungkin salah satu dari mereka marah padaku.

"Kamu goblok sekali! Mengapa bisa bertindak seperti pengecut hah?"

Aku pasti akan menjawabnya dengan diam, meski dalam hati berucap, "ya aku memang pecundang."

Sudah berapa kali aku harus terus mengorbankan semua sakit ini? Ini bukan masalah gengsi lagi. Kalau mau bicara gengsi, aku adalah orang teranjing yang sudah menjatuhkan gengsiku sendiri. Aku ingin mereka yang marah tau, bahwa aku ini tetap seorang manusia-yang punya hati.

Mungkin mereka lihat aku tangguh, tapi hatiku ini rapuh. Aku terlalu ringkih untuk terus didera semua badai ini. Kalau ada pilihan untuk tidak memilih, aku pasti sudah menyelesaikan hidupku hingga tidak ada detik berikutnya untuk riwayat hidupku.

Jangan berpikir aku ini robot yang bisa mereka kendalikan. Tapi aku tak inginkan itu! Aku hanya inginkan mereka menjadi bagian dari hatiku dan bisa ikut merasakan sakitku juga, saat ini. Bukan menjadi marah dan membiarkan aku dalam kenistaan yang tak terperi. Tega sekali mereka!

Terserah mau berkata egois padaku. Terserah mau memaki apa tentangku. Tapi kenapa disaat aku jatuh dan sulit untuk menapak bumi, mereka ada di mana? Apa aku ini benar-benar sendiri? Kenapa aku harus dipaksa merasa tidak adil?

Bukan aku menyesali, tapi aku hanya mempertanyakan. Tak pernah sadarkah mereka, kalau aku selalu menjadi salah satu akar untuk pohon mereka?

Ah.. life is so unfair.

Tak Terelakkan

Aku kehilangan pikirku dan angin bertiup begitu kencang menyibak rambutku juga hatiku sekaligus. Kuputuskan untuk tidak melanjutkan kelas terakhir. Aku pulang. Kembali ke sarangku. Ternyata mendung datang dan sekejap hujan turun. Turun sangat deras.

"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih hujan."

Aku menengadahkan kepalaku untuk beberapa saat. Kubawa motorku pelan. Kurasakan tubuhku yang mulai basah. Kurasakan pandanganku yang melamur. Entah oleh hujan ataukah air mata?

Aku suka hujan. Hujan selalu datang dan berkisah tentang berbagai hal. Kali ini ia turun, karena ingin menghibur aku. Membantu meluruhkan semua pikirku tentang dia. Tentang dia yang tak pernah menganggapku ada.

Semua tak terelakkan. Sudah terlanjur mungkin buat aku dapat senyummu. Jawaban itu aku ambil sendiri. Tanpa perlu diucap, (mungkin) aku tau. Berharap, aku tidur cepat hari ini. Dan bersiap menyambut hari penuh kejutan yang membuat aku panik dan selalu ingin muntah dibuatnya. Ah, potongan hati ini sulit untukku. Hujan, jangan berhenti menghujaniku.

Sebelumnya, terima kasih untuk mereka yang sudah memberiku semangat tiada henti dan tak henti bertanya-tanya mengapa tulisanku akhir-akhir ini adalah tentang kesedihan, keputus-asaan, dan kesia-siaan. Meski harusnya lebih tepat, pertanyaan tentang kapan aku selesai bercerita kisah cengeng seperti ini.

Maaf, kalau ada mereka yang menganggap ini bukan aku. Tapi seperti itulah sekarang. Aku berubah oleh waktu, mungkin sama seperti dia juga. Tapi aku berharap, semoga ini hanya untuk saat ini dan aku kembali seperti aku yang kalian maksud. Satu hal, aku memang begini adanya.

Kamis, 05 Februari 2009

Mengapa??

Mengapa disaat aku tidak siap dengan situasi ini,
dia datang di hadapanku?
Mengapa disaat aku tidak ingin melihatnya,
dia ada di depanku?
Mengapa disaat aku tidak ingin bertemu dengannya,
dia ada di dekatku?
Mengapa saat dia ada di dekatku,
tubuhku terasa kaku?
Tidak bisa berbuat apapun!

Saat itu,
yang ku rasakan hanya getaran itu,
yang ku dengar hanya detak jantungku,
yang ku rasakan darahku mengalir dengan derasnya, dan
yang ku inginkan hanya menjauh darinya.

Tapi saat jauh darinya, hatiku tidak tenang.
Ada yang ingin ku utarakan, tapi aku tak tahu bagaimana caranya.
Tuhan sudah mempertemukan aku dengannya berkali-kali,
tapi kau masih belum punya keberanian itu.

Kapan?
Kapan kesempatan itu datang?
Kapan lagi?
Disaat hati ini mantap berucap cinta padanya,
kesempatan itu tak kunjung datang.
Rasanya kesempatan itu tak akan pernah datang kembali.

***

Sesal yang kurasa kini.
Nampaknya aku tak kan pernah bisa bertemu dengannya lagi,
dan mengatakan padanya,
kalau aku cinta dia....

Itu Saja

Mungkin aku akan meredup.
Entah sampai kapan.
Jangan menungguku.
Cukup mengerti saja.
Kalian sahabat terbaikku.
Aku yakini itu.
Semua harapan tentangnya.
Sudah selesai.
Dan hanya ada tanda titik,
untuk akhir episodenya.
Mungkin itu saja,
yang ingin aku katakan.

Rabu, 04 Februari 2009

Suatu Saat

Aku bertemu dia lagi. Kali ini berlokasi di perpustakaan. Pertemuan yang tidak disengaja. Aku melihat dia bersama ketiga wanita-yang entah itu siapanya, aku rasa hanya teman. Oh semoga saja.

Saat itu aku bersama Embun. Sengaja Embun pilih tempat meja yang bisa menjangkau pandangan kami padanya. Tapi aku memilih untuk membelakangi dia. Suhu badanku mendadak turun drastis, peredaran darahku melambat, dan seluruh badanku gemetar tanpa sebab. Ralat, penyebabnya ada. Yaitu: dia.

"Ya udah santai aja. Lagian juga dia ngga, liat lo!" itu kata Embun.
"Dinamika badan gue udah gak jelas dan lo masih bilang san-tai?" tanyaku.
"Dia tuh lagi asyik ama laptopnya." Embun berujar.
Akupun mencoba melirik, oh untungnya aku sedikit terlindung oleh komputer-komputer informasi.
"Serius banget ya dia." kataku pelan.
"See?"
Aku mengangguk.

Lama aku mencoba menenangkan diriku. Tapi Embun menangkapku yang selalu tidak berhasil tenang dan selalu grasak-grusuk.
"Heh, tenang aja. Lagian dia kan duduknya jauh dari sini."
"Iyaa, tapi radiasinya!" jawabku pelan namun ada penekanan di sana.
"Lo pisitif thinking aja! Lagian dia juga santai kok. Kenapa lo harus salah tingkah?"

Owh.. apa yang diucapkan Embun langsung menusuk gue. Tapi ada benernya. Gue pun langsung meyakinkan diri, kalo sebenernya memang nggak ada hal yang membuatku seperti ini.

Dalam hati, "sial! Kenapa harus disaat seperti ini? Disaat aku yang tak menginginkan dia ada di sini. Godness! Harusnya aku bisa tau keberadaan dia lebih awal. Agar aku bisa menghindar darinya. Ternyata radar seperti itu, memang tak kumiliki sebelumnya."

Embun melirikku. Aku diam. Lagi dia melirikku.
Aku diam.

"Liatin dia donk. Bentar lagi kan dia lulus. Puas-puasin deh sana." ucap Embun.
Aku diam. Hanya menoleh ke belakang dan mencuri pandang melihat dia. Hanya beberapa saat. Karena kalau terlalu lama, aku yakin, aku akan segera gila.

***

Lepas dari radiasi mahadahsyat pria itu, aku bernapas lega. Membeli cemilan sebagai hadiah dari kelegaanku. Masih bersama Embun. Dekat parkiran, kami masih menyisakan sedikit perbincangan sebelum aku kembali ada kuliah.

"Senangnya, suhu badan dan peredaran darah gue udah kembali normal, Mbun." kataku sambil mengelus kedua lenganku sampai tangan.
Lalu apa jawab Embun, "mampus lo!" dengan pandangan mata bukan ke arahku.

Matakupun ikut lari menapaki arah pandangan Embun.
DAMN IT! Ternyata ada DIA!! Dia berjalan ke arah kami. Spontan semua keanehan pada tubuhku bergejolak lagi. Mendadak kacau semua sistem tubuhku. Cukup hitungan menit dia berada dekat dengan kami. Radiasi sial itu menyerangku lagi. Shit! Bikin aku nggak tau harus mikir apa, harus ngelakuin apa. Dia berjalan melintas di hadapanku dan Embun. Aku hanya diam. Benar-benar membisu. Sampai dia dan bayangannya serentak pergi, aku menunduk.

"Bodoh! Kenapa lo ga panggil dia?"
"..."
"Duh kenapa sih? Susah banget cuma tinggal manggil doank! Apa kek! Sapa-sapa apaa gitu. Ah payah lo! PAYAH! PA-YAH!"
"Gue nggak bisa. I mean, gue nggak tau harus ngapain."
"Payah lo! Padahal santai aja! Sok asyik aja ama orang macam dia mah!"
"Ha?" Embun, aku nggak bisa. Kamu kan tau kalo dalam situasi seperti itu, seluruh sistem tubuhku nggak bisa bekerja dengan baik.
"Lo harusnya nyoba buat manggil dia! Kapan lagi?! Bentar lagi dia lulus, Rai! Luluus!!" bentak Embun.
Benar sekali, Mbun. Aku memang bodoh dan payah! Kenapa ya sulit sekali untuk bisa merealisasikan perkataan Embun. Padahal hatiku juga menyetujuinya. Mendengar tentang kisah yang hampir sama-yang pernah terjadi pada Embun, aku hanya diam merenung. Wajahku terasa panas. Mataku mulai melamur karena air mata. Lalu kuteguhkan hati, suatu saat aku akan katakan padanya, kalau aku mencintainya.

***

Senin, 02 Februari 2009

Dan Cinta Berkata (chapter 1)

Malam telah datang dan rasa kesendiriian itu terasa kembali. Aku mencoba untuk menguatkan hati untuk online dalam sebuah messenger, memastikan dia online dan hanya menatapnya saja.. Yaaa, dia online. Oh Tuhan kenapa aku bodoh seperti ini? Tak berkutik melihat nama itu online saat ini. Apa yang harus ku lakukan??

Dengan sekuat hati aku menyapanya..
lantunanada : yaaa..
bluffingout : oi
lantunanada : rame ga?
bluffingout : apanya?
lantunanada : gerejanya
bluffingout : rame
Oh Tuhan. Aku speechless. Apa yang harus kuucapkan sekarang??

Cahaya, sebuah nama yang hampir satu tahun ini menyinari hidup ku, dengan ID bluffingout yang membuat diriku membisu. Dia sempat redup. Namun entah ada energi darimana, sinar itu kembali bersinar terang seterang mentari. 6 bulan disinari cahaya hangat dari Cahaya dan setelah itu cahaya itu menghentikan aktifitas itu. Dan sekarang setelah 6 bulan keredupannya, dia kembali bersinar dalam hidupku, namun iya tidak menyinari aku. Aku ingin dia kembali..

lantunanada : yaaa..
lantunanada : mmmm ga jadi deh
dia tetap tidak menjawab. Oh shit! Dia tidak bergeming. Bagaimana ini? Aku ingin bertanya sesuatu dari lubuk hatiku tapi aku takutttt..
lantunanada : ya kalo lo cinta sama orang apa yang akan lo lakukan?
bluffingout : banyaklah
bluffingout : aneh banget pertanyaan lo
lantunanada : cuma nanya pendapat aja loh.
Aku berbohong
lantunanada : aneh gimana?
bluffingout : ya udah deketin
lantunanada : ha? aneh gimana, ya udah deketin?
aku pura-pura bodoh
bluffingout : yaudalah
bluffingout : langsung tembak aja

apa??? Jadi itu yang harus kulakukan sekarang?! Huffhhh
lantunanada : lo jawab pertanyaan yang mana sih?
aku pura-pura tidak mengerti
bluffingout : yang tadi
lantunanada : ohhh..
lantunanada : masa kalo cewe nembak duluan..
bluffingout : yaudah pdkt aja
lantunanada : udah. tapi gitu sih dianya..
bluffingout : cari cowo laen
lantunanada : ga bisa cuy
lantunanada : udah cinta
lantunanada : cintrong mamen
bluffingout : yaudah cukup mengagumi dari jauh

OH SHIT!!! Itu memang yang sedang gue lakukan ya! Mengagumi lo dari jauh, jauuuhhh banget malah!!! Ternyata itu toh yang lo mau.. Heemmm okeh, cukup sakit hati..
lantunanada : silent isn't gold yaaa..
lalu perbincangan itu terhenti begitu saja. Tuhan aku lelah menjadi seperti ini.. Aku ingin dia kembali seperti dulu. Ingin sekaliiii... Aku pergi meninggalkan laptopku dan berjalan menuju tempat tidur ku. Berfikir, merasakan, meratapi, mengapa ini yang harus terjadi. Kenapa harus serumit ini?

Detik demi detik berlalu dengan cepat, menit demi menit, hingga akhirnya aku tidur terlelap dengan segala kegundahan hati...

W.D.A.K

Waktu.
Begitu hebat untuk bisa merubah.
Hingga dapat berdiri gagah.
Dia.
Berkacamata kuda juga melata.
Berintelektual berbangga akal.
Aku.
Terseret jauh semakin rapuh.
Terperosok jurang kenistaan.
Kita.
Hanya tanda koma atau titik.
Untuk tahu kisah selanjutnya.

Minggu, 01 Februari 2009

Elegi Lara (episode 5)

"Pokoknya kamu harus pindah ke Bandung, Lara..
"Ga mungkin Ibu ninggalin kamu sendirian di Jakarta..
"Please, Lara.. Mengerti Ibu sekali ini..." Ibu Lara memohon.

"Bu, Lara suka kota ini.. Lara mau tinggal di Jakarta.
"Lara mau selsein kuliah Lara, Bu. Lara ga mau pindah Kampus lagi.." Lara.

"Ibu bisa atur semua itu, Lara. Di Bandung, banyak Universitas yang bisa kamu pilih.
"Ini demi karier Ibu, demi Bapak, demi kita semua, Lara.."

-tuut..tuut..tuut-

"APA?? BANDUNG??"

Lara terus berfikir, apa jadinya bila Ia meninggalkan Jakarta.
Bagaimana kuliahnya yang baru saja di mulai di kampus baru, bagaimana dengan teman-temannya, dan Lara berfikir; bagaimana cara pengobatannya di Bandung kelak?

Lara merasa kepalanya semakin berat, kepalanya sakit bagai di hujam belati.
Lara membuka almari yang tepat berada di sebelah kanannya, dicarinya sebuntelan obat yang sengaja ia sembunyikan di dalam sana.

Dengan doa yang sedikit memaksa pada Tuhan.nya Lara, Lara menarik nafasnya perlahan dan menelan 2 butir obat yang terasa pahit.

Sementara ia tak bisa tenang, obat yang berdosis 250mg itu memaksa Lara untuk tertidur. Tidak tenang.

***

"Lara, aku jemput kamu di rumah kamu ya.." Langit.
"Hah? Emm, saya.. Saya sibuk hari ini, jadwal ngampus padet, Lang.." Lara.
"Loh koq.. Ini kan hari Minggu, emang ada yang ngampus kalo hari Minggu, La?"
-Lara mendadak kelimpungan salahtingkah mencari alasan, sementara Langit cekikikan di seberang telp sana.-
"Hahaha.. Kamu ini yah, jangan salting gitu ah, aku jadi malu nih.." Masih Langit.
"eh, iya ya.. heuu.. Saya lupa ini hari minggu.." Lara menutup matanya dan memukul-mukul jidatnya dengan lengannya secara lembut. Bentuk penyesalan dari kelakuan bodoh sebelumnya.
"Oke, satu jam lagi aku udah nyampe rumah mu.."
"eh, emm.. ehem.. tapi..."
"Bye, Honey! Love you... Muah!" Langit mengakhiri telp nya.

***

"Lara.."
". . ."
"La--raa"
". . ."
"iiihh, Laraaaaaa!"
"hm..."
"Banguun!!!"
"sayang kamu juga koq, Lang.."
"LARA!!!!! INI NESTAAAAAA!!! BANGUN!!!!"
". . ."
"Laaaaa!!" Nesta menarik lengan Lara sampai Lara terduduk dan...
"Mana malingnya?!?!? Mana?!??! Biar gua aja yang gebukin... Mana?!?!?!" Lara terbangun panik dan dengan semangat yang menggebu-gebu.
"hahhaha.. Laraa!! Mimpi apa si lo?" Nesta.
"haah, lo lagi, Nes.. Ngapain si ganggu mulu??? Lagi mimpi Indah tau! Ga Cihuy lo!"
"Lagian, udah jam berapa ni? Katanya mau ke kwitang. Mandi gih!"
"Iya, tapi ga perlu ganggu mimpi gua dong.. Kentang* deh gua.."
"idih, mimpi apa si lo??"
"adaaaa deehhh.." Lara tersipu dan menutup badannya dengan selimut lagi.
"La, mimpi jorok ya, La? Idih, sama sapa, La?"
"hmm..."
"Lang. Tadi lo sebut-sebut 'Lang', siapa Lang?"
Sontak otak Lara mengulang memori pertemuan pertama dia dengan Langit.
"La, siapa?!?!??!" Nesta semakin penasaran.
"eh, itu.. Lang, Elang maksut gua. Lo tau Elang Dharsono Suryo Hartanto??"
"hah? siapa tuh?"
"Tau, gua juga ga kenal.. haha. Udah ah, mandi duluuu...."
"rese lo, La!"

*

Lara tak habis pikir, ada apa ini?
Lara menulis dalam kamar mandinya.


Langit. Siapa dia?

Mengapa ada dia di mimpi ku?
Aneh, seharusnya tidak ada mimpi semacam itu.
Kita hanya bertemu satu kali dan sedikit bicara.
Ya, meskipun sorot matanya sangat menenangkan.
Tapi, kenapa dia?
Langit. Siapa dia?
Aku tak lebih tau dari sebatas nama.
Langit, berani sekali dia!

*LARA*

Andai Aku Bukan Aku

Dikala senja tiba, aku duduk dikursi di teras. Sambil memandang hamparan laut yang luas, mendengar deru ombak dan menikmati tiupan angin pantai yang seakan membisikan sesuatu ke telingaku.

Aku berpikir, andai saja aku adalah seseorang yang lain, aku akan jadi seperti apa?! Apakah aku akan menjadi malaikat baik hati, yang punya sayap untuk terbang ke surga? Apa aku akan jadi burung, yang terbang bebas di langit yang luas tanpa punya beban? Atau aku akan menjadi bebatuan yang diam, tidak bersuara dan tidak bergerak. Tanpa perlu menjadi sesuatu, tapi tetap bertahan menjadi dirinya. Ntah tidak punya pilihan atau memang lebih memilih seperti itu.
Tapi mengapa aku harus berandai-andai menjadi bukan aku? Haruskah aku menjadi bukan aku? Andai batu itu bisa berbicara, mungkin ia bangga menjadi dirinya. Dengan diam, tanpa berurusan dengan yang lain dan merasa tidak punya beban.

***

Lalu mengapa aku harus menjadi bukan aku? Bagaimanapun, aku tetap bangga menjadi aku tanpa harus menjadi bukan aku. Walau aku bukan siapa-siapa, tapi aku adalah aku.

Aku Jadi Apa

Disatu sore yang sepi, saat hari suda lelah berlari. Aku duduk di depan cermin, di kamarku tepatnya. Yang sebelumnya pikiranku menerawang jauh ntah kemana, tiba-tiba aku mulai berkonsentrasi pada diriku sendiri. Aku menatapi diriku, seraya berkata :
“Sebenarnya, siapa aku?”,
“Aku ini apa?” dan
“Mau jadi apa aku ini?”.
Tanpa ada yang menjawab, tetapi aku masih tetap menatapi diriku. Lalu berkata :
“Andai saja aku seperti mereka, bisa menjadi sesuatu dan menghasilkan sesuatu. Pasti aku akan sangat bangga dan sangat bahagia.” (pintanya)
“Tapi aku bukanlah apa-apa dan bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang biasa, yang menjalani hidupnya seperti air mengalir. Tanpa tahu, kemana tujuan terakhirnya.”

***

(Lalu kalimat itu muncul lagi,pertanyaan yang belum ada jawabannya sampai sekarang.)
“Aku mau jadi apa?!”
Tanpa sadar pikiranku seperti mengulang kembali ingatan-ingatan yang telah lalu, tentang mereka, yang menjadi inspirasiku, tanpa harus aku menjadi mereka.

Pertanyaan “Aku mau jadi apa?!” menjadi beban berat dalam pikiranku, karena belum ada yang bisa menjawabnya, termasuk aku.
Apa yang harus aku lakukan?
Bagaimana aku bisa menjadi sesuatu, tanpa tahu jawaban dari pertanyaanku sendiri?!

Kesekian Kalinya

Tepat tengah malam lewat tujuh belas menit sepuluh detik, aku terbangun. Refleks kulirik screen komputerku yang masih menyala dan online. Beberapa notification hadir. Tapi kesemuanya lebih pada peringatan yang berkomen tentang foto reuni kemarin. Argh..bukan itu yang aku tunggu, saudara-saudara! Maaf kalau tak bersambut komen.

"Dia online!"

Terus kenapa kalau dia online? Apa aku akan menyapanya? Tidak juga, bukan? Lalu apa?
Yang aku tau, dialah alfa yang membuka pintu ini untuk menerima perasaan pahit seperti: cinta. Kenapa harus aku yang menerimanya? Apa memang karena aku ini adalah objek derita yang paling empuk untuk dijadikan sasaran?

"Hahahaha... Kinar..Kinar.. kamu adalah gadis yang bodoh!" kataku pada diriku dalam cermin. "Mana mungkin laki-laki seperti dia mau padamu! Dia pasti punya standar yang super tinggi untuk memilih siapa wanita yang pantas untuk bersanding dengannya! Mana mau dia dengan kamu yang setiap setelah kuliah pulang ke rumah dan autis dengan laptopnya. Mana mau dia dengan penulis bodoh yang hanya bisa memimpikan keajaiban itu datang pada dia untuk tau kalau kamu suka dia! Mana ma..."

PROK..PROK..PROK..

Seseorang bertepuk tangan di belakangku. Aku menoleh. Ternyata Ara. Wajahnya mendengus. Aku rasa dia sudah berada di situ untuk beberapa saat.

"Masih panjang daftar kepecundanganmu untuk kamu sebutkan, hah?" ucap Ara dengan straight to the point. Aku kehilangan kata-kata. Pertanyaan Ara membuat aku beku.

"Apa dia sebegitu hebatnya kah, Kinar?" Ara menekan suaranya pada saat sebut namaku. Aku tau dia marah.

Wajahku mulai memanas. Rasanya seperti kesemutan. "Ara..."ucapku lemah.

"Hahahaha.. seorang Kinar penulis terkenal dan punya reputasi baik di manapun dia berada, ternyata bisa terpatahkan oleh dia." suara Ara sangat terdengar menyindir. Kakiku mulai goyah. Badan ini agak kehilangan keseimbangan.

"Apa karena dia? Erlangga Wijaya sang idola tiada tara itu?!" Ara menyebut nama itu dengan jelas sekali.

"Bukan.." jawabku masih lemah.

"Bukan apa?!"

"Bukan itu, Ara."

"Hahahaha... masih saja berkelit." Ara semakin kesal.

"Aku.. sudah coba buat melupakan dia. Tapi.." Aku ragu melanjutkan ucapanku. Karena semakin aku melanjutkan apa yang akan aku katakan, semakin aku menggila untuk terus menempatkan dia di dalam otakku.

"Tapi aku masih suka sama dia, Ara! Aku masih terobsesi sama dia!" Ara melanjutkan dengan suara setengah berteriak.

Aku tak tahan lagi. Wajah dan hatiku sudah terlalu panas. Pandanganku pun sudah ikut melamur dengan air mata yang menggenang beberapa detik lalu. Aku pun mengangkat kakiku dan pergi keluar kamar. Aku berjalan meninggalkan kamar dengan langkah cepat. Oh, sepertinya aku harus keluar dulu dari sini untuk menenangkan hati dan pikiranku.

Kakiku yang melangkah, tak pikirkan arah. Karena pikiranku sedang sibuk dipakai untuk mereka ulang apa yang tadi dikatakan Ara. Semua kata-katanya terbayang dan berputar-putar di kepalaku. Ara. Kenapa kamu katakan itu padaku?

***

Ara duduk lemas di kasur Kinar. Badannya tidak dalam posisi tegap. Kepalanya pun menunduk. Tes. Ternyata Ara meneteskan air mata. "Kinar, ini semua demi kamu." bisiknya lirih.

Dipandanginya deretan foto-foto yang terpajang di dinding kamar Kinar. Dari semua foto-foto, Ara tau, foto mana yang berarti buat Kinar. Yaitu foto: New York, Brooklyn Bridge, Aussie, Boston, dan beberapa tempat yang Ara tak tau jelas detail tempatnya. Foto-foto tempat di luar negeri yang pernah di kunjungi Erlangga Wijaya. Ara tau jawaban Kinar, "Ara, dia pernah ke tempat-tempat itu berkat otaknya. Helloow.. tidakkah dia memang hebat?"

Entah sampai kapan Kinar akan seperti itu. Tapi dalam hati, Ara berjanji untuk berusaha melakukan yang terbaik untuk Kinar.

***

Tengah malam dan aku sendiri berjalan tanpa arah menyusuri jalan perumahan yang lengang. Pikiranku kosong. Sama seperti hatiku juga. Suara gonggongan anjing terdengar beberapa kali. Suaranya jauh sekitar beberapa blok dari tempat aku berjalan. Tak lama aku melihat kilat. Seperti semesta mengambil gambarku yang gamang. Lalu, diikuti dengan dentuman marah langit berupa petir. Gagah sekali. Menunjukkan kemegahan suara memecah kesunyian malam. Aku tersenyum. Tepatnya, mencoba tersenyum.

Tuhan, biarkan aku menikmati malam ini bersama apa yang telah atau akan Kamu berikan padaku.

Langkah ini memelan. Tapi tetap berjalan. Kulihat langit sudah bersih dari bintang. Tanda mendung menggantung manja di sana. Dan dilanjutkan dengan gerimis hujan yang datang. "Hujan...hapuskan memoriku tentangnya. Please..."

***