.sahabat
Sabtu, 31 Januari 2009
Terlalu Jauh Ah!
"Secepat mungkin gue lari. Pokoknya gue harus lari sebelum aku menangis karena tak berhasil mengikuti kuliah paling mematikan abad ini."
Suasana kampus menurutku sedang tahap penuh-penuhnya. Mungkin ini lagi masa pancaroba. Begitu aku menyebutnya. Saat di mana mahasiswa yang datang akan bersimpangan dengan mahasiswa yang akan pulang. Hehehe. Aneh ya? Bukan kalian aja kok yang ngerasa aneh. Aku juga gitu.
"Shit! Rame banget! Bisa mati gaya gue!" Langkahku percepat. Kepala ini agak tertunduk. Sial!
"Ah kalo lagi sepi juga, gue suka mati gaya kok. Hehe." pikirku lagi.
STOOOOOOOOP!!! Lihat itu siapa?!!
"Itu, kan?"
dugdug..dugdug..dugdug..
"Oh..lemas rasanya. Debaran ini mengahabiskan energi gue. Dia. Ya itu dia. Benar dia."
Dia yang setiap malamnya aku nantikan untuk online chat di facebook. Meskipun lebih sering saling diam tak bicara dan hanya terus terpaku memperhatikan dan memastikan dia sedang online. Hebat sekali, kan aku?
Ketololan untuk mencari-cari tau kabarnya melalui status-status yang dia tulis. Hanya untuk mencari, melihat, dan... mendiamkannya. Harusnya sih, kata Dita, aku menyapanya saja. Oh mudah baginya bicara seperti itu. Bagiku? Fiuw! Mendingan ikut fear factor di gantung pake helikopter deh!
Kalau aku menyapanya, humm, bunuh aku sekarang juga! Mana mungkin aku menyapanya. Meski aku dulu pernah mengenalnya, bahkan lebih dari sekedar kenal, tetap saja aku membatu seketika. Aku ingatkanmu ya, dia sudah bukan sosok yang aku kenal lagi. Perjalanan waktu telah mengubahnya. Mentransformasinya menjadi dia pada zat lain. Aku dan dia sudah bukan senyawa yang senang sedih sama-sama. OK, aku berlebihan untuk ungkapkan ini. Tapi itulah realita pada saat itu. Saat yang takkan mungkin bisa kembali atau terganti.
Entahlah apa tindakan dan sikapku benar? Hanya diam. Mencuri pandang dan mencuri informasi tentangnya. Urgh..andai aku juga bisa mencuri hatinya (belajar ama Dewi Persik nih!) Yeah, i wish! Mungkin sampai kapanpun usaha pencurian hatinya akan selalu gagal dan terpatahkan oleh satu hal, yaitu: ketakutanku!
Meski sederhana tapi itu adalah masalah serius. Pikir orang, aku bodoh untuk melewatkannya. Aku bodoh untuk tidak menggencarkan serangan padanya. Dita bilang, "at least dia tau perasaan lo!"
"Hah? Dia tau? Hanya sekedar tahu saja?"
Mungkin pikirku dia tak perlu tau. Aku cukup menikmati kok. Biarkan aku mencintai bayangannya saja. Itu pun kalau masih bisa. Dia udah terlalu jauh berlari. Hingga aku jauh tertinggal darinya. Aku nggak bisa meyakinkan diri, harus barapa meter lagi untuk aku bisa menggapainya? Sudahlah. Tak mau pikirkan itu.
By the way, dia yang sekarang sedang pusing dilanda penyelesaian skripsinya nih. Oh pasti dia sekarang sedang sibuk menambah jam riset buat skripsinya. Yang aku bisa katakan dari sini hanyalah, "selamat berjuang ya, Sayang"
Aku yang Menyukainya
"Kira-kira apa dia melihat langit yang sama denganku?"
Lagi, kuhirup udara dengan dalam-dalam. Entah sudah keberapa puluh juta kali, semenjak aku berada di sini. Aku tak mampu menghitungnya. Sama tak mampunya, untuk aku menghitung bintang-bintang yang berpendar di atas sana.
Oh apa yang aku pikirkan? Dia yang sebentar lagi sidang, wisuda, lulus, dan dengan jelas akan pergi meninggalkan aku, kenapa aku masih sama?
Mungkin mulai sekarang, aku harus merelakannya. Menganggapnya sudah tak lagi menjadi salah satu tokoh yang ada di dalam kisahku.
Ingin sekali aku berteriak TOLOL untuk diriku. Atas segala kebodohan dan kepecundanganku. Atas segala detik yang terlewat untukku memandanginya dari kejauhan. Kalian boleh tertawa. Tapi di dalam sini sakit. Sa-kit.
Jujur rasa ini semakin menggila dan mengganas. Tatkala aku benci untuk menjadi aku yang tak bisa punya keberanian untuk sekedar menyapa, "Hai" saja.
Mungkin aku akan menyesali untuk setiap kesempatan yang terlewat dan dia yang kulewatkan. Mungkin aku akan terus begini, menanti tak pasti, tanpa ada ada, cerita lagi.Terakhir, mungkin aku akan menangis di akhir episodenya nanti.
Hari ini aku bertemu dengannya. Oh, ralat aku hanya berdiri di suatu tempat dan hanya diam sambil melihatnya di kejauhan. Entah berapa jarak kami. Konsentrasiku hanya tertuju padanya.
Dia memakai polo shirt coklat kopi. tak lupa tas kulit berbentuk kotak yang ia selempangkan melintas bahu dan dada bidangnya. Wajahnya yang menyiratkan karisma mahadahsyat mampu membuat jantungku berdetak di atas rata-rata. Aku rasa bangunan ini akan roboh. Oh bicara apa aku ini? Hahaha. Mana mungkin bangunan semegah dan kokoh seperti gedung kampusku ini akan roboh hanya karena jantungku?
Aku ini apa? Pemimpi? Yeah, mungkin sebutan itu pantas untukku. Aku pemimpi. Tambahannya adalah pemimpi yang tolol. Jelas dia itu bagai awan. Aku tak mungkin menggapainya. Hanya bisa kupandangidari jauh. Kalaupun aku dekat, aku hanya akan meraih udara kosong tanpa wujud.
Sungguh pesonanya membunuhku. Sudahlah. Berhenti pikirkan dia. Aku lelah. Aku ingin tidur sekarang. Sampai jumpa semuanya. Bangunkan aku besok pagi. Untuk semua kisah yang baru dan untuk aku yang menyukainya.
Langit : Air mata itu? (episode 4)
"Mengapa aku memiliki keberanian saat itu? Ah mungkin tawaranku waktu itu, hanya sebuah tindakan manusiawi saja. Tidak lebih.
Tapi...kenapa sampai saat ini aku memikirkannya ya?" Langit bicara dan tersenyum sendiri kemudian.
Namanya Lara. Kenapa harus Lara? Apa karena dia selalu sedih waktu kecilnya? Uhmm..kurasa tidak. Atau karena dulu ibunya saat hamil ngidam durian? Ah! Apa hubungannya?
Lara. Identik dengan kesedihan. Itu sih yang aku tangkap. Lalu, bukan salahku, kan? Kalau aku langsung mengaitkannya dengan kesedihan.
Lara. Nama yang juga membuatku latah untuk bertanya-tanya. Apa perlu sampai aku hubungi ayah ibunya untuk bertanya alasan kenapa gadis itu bernama Lara?
Haha.. bodohnya! Mana mungkin aku berani? Detik setelah aku menyapanya saja, sudah membuat jantungku berubah fungsi jadi mesin pengebor sumur. Apa jadinya kalau aku berbincang banyak dengannya siang itu, apalagi sampai menyentuh pembicaraan yang privasi. Uh. Mana mungkin.
"Harusnya memang pemilu ulang gubernur Jatim itu nggak usah diadakan lagi. Bagaimana bisa masyarakat Jatim terkatung-katung dengan kekosongan pemerintahan?"
"..." Langit masih melamun.
"Harusnya mereka sadar, bahwa pemilu itu menyedot uang yang tidak sedikit jumlahnya."
"..."
"LANG!" seseorang membentak Langit.
Sontak Langit kaget. "Eeh..ya.. bagaimana?"
"Sodara Langit, Anda sedang berada di mana? blablabla..."
Langit terganggu. Ia terganggu dengan wanita bernama Lara. Baru kali ini pikirannya bercabang dan tidak fokus.
Kali ini berganti tempat. Lelah dengan diskusi panjang tentang isu nasional, Langit masih harus berkutat dengan berita. Daftar panjang untuk membuatnya terus menulis tak juga menghentikan aktivitasnya hari itu. Harusnya tengah malam begini, Langit sudah tertidur. Menyiapkan energi untuk besok yang unpredictable.
Langit membuka halaman baru. Lalu ia pun mulai menulis. Kali ini adalah jurnal pribadinya.
Di tengah hari yang terik membakar seluruh isi kota ini. Aku seketika terjatuh pada sebuah oase firdaus. Lara. Meski matanya nanar entah karena apa, tapi aku melihatnya begitu dahsyat. Aku tak bisa deskripsikan jenis magnet apa itu. Lara. Akankah aku bisa bertemu denganmu lagi?
Saved.
Langit menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya yang nyaman. Pandangannya lurus mengawang.
"Air mata itu..."
Langit memejamkan matanya. Ingin sekali dia memahami semua seketika. Ah... Kini hanya dia dan keheningan yang mengitarinya.
Langit Biru (episode 3)
"Maaf, permisi."
Lara berucap dengan bibir mungilnya dan matanya yang berair. Langit menatapnya bagai melihat malaikat menjelma jadi bidadari.
Pertemuan itu pertemuan pertama yang membuat Langit terkesima. Sebelum taxi membawa Lara pergi meninggalkan tempat Langit.
Lara masih terngiang apa yang Pak Dokter telah katakan.
"Apa?? Dua tahun?? Apa yang bisa ku lakukan untuk dua tahun? Aku ga sanggup. Ini seperti tak adil untukku." ungkap Lara di dalam hati.
Lara menangis lagi. Mencoba menghubungi temannya; Nesta.
"Nes.."
"Kenapa, La? Sibuk nih gue. Ntar aja lah yah. Bye." jawab Nesta.
Tuut..tuut..tuut..
Tak tahan lagi, Lara menangis sejadinya. Lara merasa sangat sendiri dan kecewa. Lara melihat langit yang membiru.
"Langit, meski aku begitu kecil terlihat dari mu. Andai ku bisa menggapai mu,
mengambil sedikit biru mu untuk tenangkan hati yang resah ini.." Lara bercerita pada
langit.
[rumah Lara]
Jeritan handphone Lara.
"Halo, La. Kenapa? Tadi ada apa?" Nesta (lagi)
". . ." Lara diam dan meloncat ke kasurnya. Ia membenamkan wajahnya di bantal.
"LA???? HALOOOOWWWWW!!!!?"
"Iya, Ta.."
"Koq diem si? Kenpa tadi lo telp gue?"
"Ta, tadi gua ke dokter, periksain kepala gue, dan.." Lara berhenti.
"Apaan si, La? Cepetan deh, gue ribet nih.."
"Oh, kalo sibuk, ntar lagi aja, Ta. Gue ngga papa koq.."
"Lo tu gmn si? Gue ude telp, eh, malah diem.. Paan si?"
"Ta, dokter vonis gua! Gua sakit, Ta! Gua bakal mati dua tahun lagi!" Lara meledak.
"Apa, La? O..okey.. Gue.. emm.. lagi ribet.. ntar aje dah ya.. bye." Nesta bimbang.
Lara menulis :
Adakah yang lain yang bisa mengerti aku selain langit dan hiasannya?Apakah aku begitu hina hingga saat sulit pun aku di nista?Aku sendiri disini, tanpa teman, hanya rintik hujan.Aku akan mati, tak lama lagi.Aku mau hidup, seratus tahun lagi.*LARA
**dua minggu kemudian**
[ruangan pak dokter]
"Lara, bagaimana keadaan mu?" Pak Dokter.
"Luar biasa, dok.. Lihat saya hari ini, sungguh bahagia kan, Dok?"
"Saya yakin kamu kuat, Lara. Kamu takan menyerah sampai kapan pun."
"Harusnya begitu, dok.. Jadi, apa yang harus saya lakukan sekarang?"
"Lara.." Dokter menekan suaranya dan setengah memohon.
"Ya, Dok??" Lara penasaran.
"Kamu harus bicara pada orangtua mu.."
"Tidak!"
"OK, at least, your aunty.."
"NO!"
"you hav.."
"I said NOT! Saya ga mau, dok.. Please.." Raut air muka Lara berubah.
"Tapi banyak pertimbangannya, Lara. Biaya pengobatanmu, kondisi badan mu, siapa
yang akan merawat mu, Lara?"
"Saya punya dokter yang hebat di depan mata saya, saya bisa jaga diri saya sendiri,
dokter.. Dokter hanya perlu beritahu saya, apa yang harus saya lakukan. Hanya itu,
dokter baik hati.." Lara sambil cengar-cengir, berusaha mencairkan suasana.
"Kamu ini ya, Lara. Kamu memang berbeda!"
Lara mengambil obat-obatannya dan pamit dari ruangan Pak Dokter.
Saat ia mencari taxi, ada seorang pria yang menghampiri Lara.
"Mau pakai taxi?"
"Eh, iya.. Maaf.."
"Hmm..Langit." sambil lelaki ini mengulurkan tangannya.
Lara sejenak memandangi tangan yang terulur meminta balas jabat.
"Eh, umm, Lara." Lara salah tingkah dan menyambut Langit.
"Lara?"
"Langit?"
"Hahahhahaha" suara renyah dari mereka memecah panas siang di ibukota itu.
Lara duduk di dalam taxi, tak sengaja ia menatap langit nan cerah.
Sontak itu mengingatkan Lara akan seseorang. Langit.
"Langit.. La-ngit.. Namanya Langit." dalam hati..Lara mengambil pena nya dan menulis dalam notes merahnya.
LANGIT.
Indah. Cerah. Hangat. Biru. Tenang.Ah, langit.. Kau harus tau siapa Langit yang ku temui tadi siang.Langit yang ramah. Langit yang menarik. Ia menenangkan ku: langit. Langitku, La-ngit-ku. Biru yang tenang dan menghangatkan.
Aku suka Langit!
Ini Langit untuk Lara (episode 2)
"Seriusan namanya.. umm..La-ngit?"
Hahaha. Itu yang dia tanyakan ketika kali pertama kami bertemu. Aku cukup gugup. Karena aku melihat sekilas senyum yang ia lempar padaku.
Kalau aku mengingatnya, aku selalu merasa momen itu yang paling memorable. Hmm.. well, itu pertama kalinya seorang cewek membuatku sulit melupakannya. Lucu memang. Tapi ya seperti itu adanya.
Namanya Lara. Biasa kusebut dia: gadisku. Itu panggilan khusus buatnya. Entah alasan apa yang mendasariku untuk memanggilnya dengan ucapan seperti itu. Aku tau, dia selalu bergidik pelan diikuti dengan senyum tersipunya, yang membuat wajahnya meranum cantik.
Aku suka.
Dia gadisku. Haha. Meski dia slalu menganggapku aneh dengan panggilan itu padanya, tapi dia tidak pernah sekalipun marah.
Lara, gadisku yang ceria.
Tapi kini...
Aku hanya bisa diam saja. Dia sudah pergi. Meninggalkan lara lain di benak ini. Terlalu sakit. Tapi selalu merasa bahagia jika mengingatnya. Dialah penawar dari semua penat hariku. Aku tak pernah berspekulasi apapun tentang dia dan Tuhan. Entah apa yang dia ucapkan pada Tuhan sebelumnya. Hingga dengan jahatnya ia meninggalkanku. Demi satu konspirasi yang tak pernah aku pahami.
"dia baik-baik saja." ucap ayahku ketika ia pulang.
Sebenarnya saat itu, aku melihat ada keraguan di mata ayah. Tapi segera aku tepis dan mencoba menenangkan diriku sendiri.
Tapi? Ayah membohongiku demi etika profesinya untuk merahasiakan apapun keadaan pasien pada orang lain.
Hingga aku speechless. Ingin sekali berteriak mengapa aku tidak boleh mengetahui hal yang sebenarnya? Kenapa?! Kenapa, Ayah?!!
Apa aku tak bisa miliki kebahagiaan? Ketika lara datang yang membahagiakan, mengapa ia pergi meninggalakan lara yang menyakitkanku. Aku rasakan langit runtuh. Ya, itu aku. Aku yang jatuh. Aku yang bukan langitnya lagi.
Sampai dia pergi. Aku gamang. Aku bingung.
Aku masih sulit membedakan di mana aku sebenarnya?
Lara. Aku Langitmu. Dengarkan aku...
.langit untuk lara
Lara : Aku mau hidup seratus tahun lagi! (episode 1)
Gadis delapanbelas tahun yang hidupnya komplikatif.
Namanya Lara. Lara Jaques. Dua tahun sebelum saat ini, ia berumur enambelas. Hidupnya menyenangkan dan sangat baik-baik saja. Sampai akhirnya, satu siang yang damai, di mana telah dipesannya 80 tusuk sate ayam plus kambing di tempat favorit teman segengnya Lara.
Lara kecelakaan..
Dua minggu lebih 4 hari setelah itu. Ayah dari ibunya yang menjadi kakek nya, berpulang. Satu hit yang sangat mengena untuk Lara yang sangat dekat dengan beliau. Satu bulan setelah berpulangnya sang kakek, ia memutuskan untuk D.O dari universitas ternama di Bandung dengan alasan yang menghebohkan seantero kampus.
Setengah bulan setelahnya, Lara menjerit miris di ibukota. Ia tak bisa menerima kenyataan yang dialaminya. Lara bilang ini seperti "sudah jatuh, tertimpa tangga, keinjek gajah, dan di giles setum ampe gepeng"
[di sebuah rumah sakit kenamaan ibukota sonoan dikit]
"Ini hasil LAB nya, mbak" kata si suster. "Langsung ke ruangan Dokter Janarko saja ya, mbak.." masih si suster.
"Oke, thanks ya, mbak.." Lara sambil nyengir.
[ruangan si pak dokter]
"OK, Lara.. mau di lihat sekarang apa nunggu tantemu selesai dr kamar operasi?" Pak dokter.
"Sekarang aja, dok.. nunggu tante mah lama, keburu basi deh.. hehe"
"Kamu siap?"
"Nah, dokter ini gimana, udah siapa dari tadi ah."
"Baik, kamu harus tenang mendengarnya"
"sepsep lah, dok"
Hening.
"Begini, ini sangat jarang terjadi, saya juga tak mau mengejutkan kamu, saya hanya bicara based on the reality yah, oke?"
"Oke, emang ada apa sih, dok?" Lara mulai gelisah.
"Benturan di kepalamu membuat retak sedikit tengkorak bagian kiri, ini agak menyulitkan peredaran darah ke otak, namanya branchical py****. Ini ada konjugasi dengan lipatan otot di pundak mu yang terbentur cukup keras.. bblalabalabalablalabablabla..."
Lara? Wajahnya pasi, keringet dingin, matanya melotot, tenggorokannya kering, mulutnya membentuk A yang besar. Lara sama sekali tak menyangka hasil dari citiscan yang ia minta untuk mengetahui kenapa ia sering sakit kepala belakangan malah jadi membuat situasi tambah rumit..Lara tak tau apa yang harus ia lakukan, tak mungkin ia menangis di depan dokter yang adalah teman sejawat tantenya..
Suasana hening lagi. Sementara kepala Lara semakin terasa sangat berat.
"dok.."Lara mulai sedikit gugup. "kemungkinan terburuk?"
"Saya tak bisa pastikan, tapi kalau kamu rajin terapi dan Tuhan mengizinkan. Semua akan baik-baik saja, Lara. Tenanglah.."dokter menuliskan entah apa di dokumen riwayat kesehatan Lara.
"Kalau tidak terapi dan urusan medik yang lain-lainnya?" Lara menahan tangis.
"Lara, kamu harus menjalani itu semua. Beside, kamu harus selalu tenang, tak banyak pikiran, menjaga kondisi tubuh supaya semuanya lancar. Kamu harus berobat dan berdoa."
"Saya tanya, kemungkinan terburuk dari itu semua, dok.."
". . ."
"Dok, saya mau tau!"
"Tapi.."
"Tolong, dok.."
"Baik. Penurunan kapasitas darah dan oksigen di otak menghambat proses kerja otak mu. Dan itu tak bisa dibiarkan terus menerus. Ditambah lagi kamu suka beraktifitas, intensitasnya pun tinggi, ini berbahaya untukmu, Nak."
Sontak Lara terbangun dari ketakutannya, ucapan dokter itu terlalu sulit dan tak bisa di mengerti. Satu hal yang Lara tangkap adalah ia tak bisa melakukan hal berat dan berfikir cepat lagi. Ia mati sebelum jasadnya tak berdaya. Lara akhirnya menangis.
"Berapa tahun?"
"Saya tak bisa pastikan. Tapi.."
"Berapa tahun, Dok?"
"Dua tahun pertama ini akan sangat sulit.."
"Dua tahun?" Lara putus asa.
"Tapi, kita bisa upayakan hal-hal lainnya. Kamu kuat, Lara!"
"Han.."
"Kita bisa lakukan tindakan medik baik nonmedik untuk itu, kamu harus tenang, ini tak boleh menghambat dan memperburuk kondisi mu."
"syalallalalalala..lalilulelo,...nanannanana" suara Dokter mendadak tak bisa terjangkau oleh Lara. Dia sudah kalut.
Lara pulang. Lara sendirian. Lara menangis saat tertawa.
Sampai di rumah, Lara menulis..
Aku sudah mati.
Sekarang apa lagi?
Setelah semuanya pikir hanya mimpi.
Aku mati.
Semua cita-citaku terasa harus berhenti, hanya sampai disini.
Sekarang apa lagi?
Apa yang ku punya selain otak untuk berfikir dan hati untuk merasa.
Aku mati. Tak ada lagi. Hanya mimpi. Tinggal nama. Sudah mati. Mati sudah.
*LARA*
Langkah
semua bahagia,
semua bisa bercerita.
Bersama menapaki kisahnya,
tanpa tendensi apapun.
Karena aku ingin,
biarkan semua mengadu.