.sahabat

.sahabat

Sabtu, 14 Februari 2009

Life is So Unfair

Sebenarnya aku tidak suka dengan pernyataan itu. Tapi kali ini aku setuju. Mereka tidak tau, disaat genting seperti ini, aku tanpa sadar malamun tolol tentang semua kejadian itu. Mungkin salah satu dari mereka marah padaku.

"Kamu goblok sekali! Mengapa bisa bertindak seperti pengecut hah?"

Aku pasti akan menjawabnya dengan diam, meski dalam hati berucap, "ya aku memang pecundang."

Sudah berapa kali aku harus terus mengorbankan semua sakit ini? Ini bukan masalah gengsi lagi. Kalau mau bicara gengsi, aku adalah orang teranjing yang sudah menjatuhkan gengsiku sendiri. Aku ingin mereka yang marah tau, bahwa aku ini tetap seorang manusia-yang punya hati.

Mungkin mereka lihat aku tangguh, tapi hatiku ini rapuh. Aku terlalu ringkih untuk terus didera semua badai ini. Kalau ada pilihan untuk tidak memilih, aku pasti sudah menyelesaikan hidupku hingga tidak ada detik berikutnya untuk riwayat hidupku.

Jangan berpikir aku ini robot yang bisa mereka kendalikan. Tapi aku tak inginkan itu! Aku hanya inginkan mereka menjadi bagian dari hatiku dan bisa ikut merasakan sakitku juga, saat ini. Bukan menjadi marah dan membiarkan aku dalam kenistaan yang tak terperi. Tega sekali mereka!

Terserah mau berkata egois padaku. Terserah mau memaki apa tentangku. Tapi kenapa disaat aku jatuh dan sulit untuk menapak bumi, mereka ada di mana? Apa aku ini benar-benar sendiri? Kenapa aku harus dipaksa merasa tidak adil?

Bukan aku menyesali, tapi aku hanya mempertanyakan. Tak pernah sadarkah mereka, kalau aku selalu menjadi salah satu akar untuk pohon mereka?

Ah.. life is so unfair.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar