"Dia online!"
Terus kenapa kalau dia online? Apa aku akan menyapanya? Tidak juga, bukan? Lalu apa?
Yang aku tau, dialah alfa yang membuka pintu ini untuk menerima perasaan pahit seperti: cinta. Kenapa harus aku yang menerimanya? Apa memang karena aku ini adalah objek derita yang paling empuk untuk dijadikan sasaran?
"Hahahaha... Kinar..Kinar.. kamu adalah gadis yang bodoh!" kataku pada diriku dalam cermin. "Mana mungkin laki-laki seperti dia mau padamu! Dia pasti punya standar yang super tinggi untuk memilih siapa wanita yang pantas untuk bersanding dengannya! Mana mau dia dengan kamu yang setiap setelah kuliah pulang ke rumah dan autis dengan laptopnya. Mana mau dia dengan penulis bodoh yang hanya bisa memimpikan keajaiban itu datang pada dia untuk tau kalau kamu suka dia! Mana ma..."
PROK..PROK..PROK..
Seseorang bertepuk tangan di belakangku. Aku menoleh. Ternyata Ara. Wajahnya mendengus. Aku rasa dia sudah berada di situ untuk beberapa saat.
"Masih panjang daftar kepecundanganmu untuk kamu sebutkan, hah?" ucap Ara dengan straight to the point. Aku kehilangan kata-kata. Pertanyaan Ara membuat aku beku.
"Apa dia sebegitu hebatnya kah, Kinar?" Ara menekan suaranya pada saat sebut namaku. Aku tau dia marah.
Wajahku mulai memanas. Rasanya seperti kesemutan. "Ara..."ucapku lemah.
"Hahahaha.. seorang Kinar penulis terkenal dan punya reputasi baik di manapun dia berada, ternyata bisa terpatahkan oleh dia." suara Ara sangat terdengar menyindir. Kakiku mulai goyah. Badan ini agak kehilangan keseimbangan.
"Apa karena dia? Erlangga Wijaya sang idola tiada tara itu?!" Ara menyebut nama itu dengan jelas sekali.
"Bukan.." jawabku masih lemah.
"Bukan apa?!"
"Bukan itu, Ara."
"Hahahaha... masih saja berkelit." Ara semakin kesal.
"Aku.. sudah coba buat melupakan dia. Tapi.." Aku ragu melanjutkan ucapanku. Karena semakin aku melanjutkan apa yang akan aku katakan, semakin aku menggila untuk terus menempatkan dia di dalam otakku.
"Tapi aku masih suka sama dia, Ara! Aku masih terobsesi sama dia!" Ara melanjutkan dengan suara setengah berteriak.
Aku tak tahan lagi. Wajah dan hatiku sudah terlalu panas. Pandanganku pun sudah ikut melamur dengan air mata yang menggenang beberapa detik lalu. Aku pun mengangkat kakiku dan pergi keluar kamar. Aku berjalan meninggalkan kamar dengan langkah cepat. Oh, sepertinya aku harus keluar dulu dari sini untuk menenangkan hati dan pikiranku.
Kakiku yang melangkah, tak pikirkan arah. Karena pikiranku sedang sibuk dipakai untuk mereka ulang apa yang tadi dikatakan Ara. Semua kata-katanya terbayang dan berputar-putar di kepalaku. Ara. Kenapa kamu katakan itu padaku?
***
Ara duduk lemas di kasur Kinar. Badannya tidak dalam posisi tegap. Kepalanya pun menunduk. Tes. Ternyata Ara meneteskan air mata. "Kinar, ini semua demi kamu." bisiknya lirih.
Dipandanginya deretan foto-foto yang terpajang di dinding kamar Kinar. Dari semua foto-foto, Ara tau, foto mana yang berarti buat Kinar. Yaitu foto: New York, Brooklyn Bridge, Aussie, Boston, dan beberapa tempat yang Ara tak tau jelas detail tempatnya. Foto-foto tempat di luar negeri yang pernah di kunjungi Erlangga Wijaya. Ara tau jawaban Kinar, "Ara, dia pernah ke tempat-tempat itu berkat otaknya. Helloow.. tidakkah dia memang hebat?"
Entah sampai kapan Kinar akan seperti itu. Tapi dalam hati, Ara berjanji untuk berusaha melakukan yang terbaik untuk Kinar.
***
Tengah malam dan aku sendiri berjalan tanpa arah menyusuri jalan perumahan yang lengang. Pikiranku kosong. Sama seperti hatiku juga. Suara gonggongan anjing terdengar beberapa kali. Suaranya jauh sekitar beberapa blok dari tempat aku berjalan. Tak lama aku melihat kilat. Seperti semesta mengambil gambarku yang gamang. Lalu, diikuti dengan dentuman marah langit berupa petir. Gagah sekali. Menunjukkan kemegahan suara memecah kesunyian malam. Aku tersenyum. Tepatnya, mencoba tersenyum.
Tuhan, biarkan aku menikmati malam ini bersama apa yang telah atau akan Kamu berikan padaku.
Langkah ini memelan. Tapi tetap berjalan. Kulihat langit sudah bersih dari bintang. Tanda mendung menggantung manja di sana. Dan dilanjutkan dengan gerimis hujan yang datang. "Hujan...hapuskan memoriku tentangnya. Please..."
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar