Sebenarnya aku tidak suka dengan pernyataan itu. Tapi kali ini aku setuju. Mereka tidak tau, disaat genting seperti ini, aku tanpa sadar malamun tolol tentang semua kejadian itu. Mungkin salah satu dari mereka marah padaku.
"Kamu goblok sekali! Mengapa bisa bertindak seperti pengecut hah?"
Aku pasti akan menjawabnya dengan diam, meski dalam hati berucap, "ya aku memang pecundang."
Sudah berapa kali aku harus terus mengorbankan semua sakit ini? Ini bukan masalah gengsi lagi. Kalau mau bicara gengsi, aku adalah orang teranjing yang sudah menjatuhkan gengsiku sendiri. Aku ingin mereka yang marah tau, bahwa aku ini tetap seorang manusia-yang punya hati.
Mungkin mereka lihat aku tangguh, tapi hatiku ini rapuh. Aku terlalu ringkih untuk terus didera semua badai ini. Kalau ada pilihan untuk tidak memilih, aku pasti sudah menyelesaikan hidupku hingga tidak ada detik berikutnya untuk riwayat hidupku.
Jangan berpikir aku ini robot yang bisa mereka kendalikan. Tapi aku tak inginkan itu! Aku hanya inginkan mereka menjadi bagian dari hatiku dan bisa ikut merasakan sakitku juga, saat ini. Bukan menjadi marah dan membiarkan aku dalam kenistaan yang tak terperi. Tega sekali mereka!
Terserah mau berkata egois padaku. Terserah mau memaki apa tentangku. Tapi kenapa disaat aku jatuh dan sulit untuk menapak bumi, mereka ada di mana? Apa aku ini benar-benar sendiri? Kenapa aku harus dipaksa merasa tidak adil?
Bukan aku menyesali, tapi aku hanya mempertanyakan. Tak pernah sadarkah mereka, kalau aku selalu menjadi salah satu akar untuk pohon mereka?
Ah.. life is so unfair.
.sahabat
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 14 Februari 2009
Tak Terelakkan
Aku kehilangan pikirku dan angin bertiup begitu kencang menyibak rambutku juga hatiku sekaligus. Kuputuskan untuk tidak melanjutkan kelas terakhir. Aku pulang. Kembali ke sarangku. Ternyata mendung datang dan sekejap hujan turun. Turun sangat deras.
"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih hujan."
Aku menengadahkan kepalaku untuk beberapa saat. Kubawa motorku pelan. Kurasakan tubuhku yang mulai basah. Kurasakan pandanganku yang melamur. Entah oleh hujan ataukah air mata?
Aku suka hujan. Hujan selalu datang dan berkisah tentang berbagai hal. Kali ini ia turun, karena ingin menghibur aku. Membantu meluruhkan semua pikirku tentang dia. Tentang dia yang tak pernah menganggapku ada.
Semua tak terelakkan. Sudah terlanjur mungkin buat aku dapat senyummu. Jawaban itu aku ambil sendiri. Tanpa perlu diucap, (mungkin) aku tau. Berharap, aku tidur cepat hari ini. Dan bersiap menyambut hari penuh kejutan yang membuat aku panik dan selalu ingin muntah dibuatnya. Ah, potongan hati ini sulit untukku. Hujan, jangan berhenti menghujaniku.
Sebelumnya, terima kasih untuk mereka yang sudah memberiku semangat tiada henti dan tak henti bertanya-tanya mengapa tulisanku akhir-akhir ini adalah tentang kesedihan, keputus-asaan, dan kesia-siaan. Meski harusnya lebih tepat, pertanyaan tentang kapan aku selesai bercerita kisah cengeng seperti ini.
Maaf, kalau ada mereka yang menganggap ini bukan aku. Tapi seperti itulah sekarang. Aku berubah oleh waktu, mungkin sama seperti dia juga. Tapi aku berharap, semoga ini hanya untuk saat ini dan aku kembali seperti aku yang kalian maksud. Satu hal, aku memang begini adanya.
"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih hujan."
Aku menengadahkan kepalaku untuk beberapa saat. Kubawa motorku pelan. Kurasakan tubuhku yang mulai basah. Kurasakan pandanganku yang melamur. Entah oleh hujan ataukah air mata?
Aku suka hujan. Hujan selalu datang dan berkisah tentang berbagai hal. Kali ini ia turun, karena ingin menghibur aku. Membantu meluruhkan semua pikirku tentang dia. Tentang dia yang tak pernah menganggapku ada.
Semua tak terelakkan. Sudah terlanjur mungkin buat aku dapat senyummu. Jawaban itu aku ambil sendiri. Tanpa perlu diucap, (mungkin) aku tau. Berharap, aku tidur cepat hari ini. Dan bersiap menyambut hari penuh kejutan yang membuat aku panik dan selalu ingin muntah dibuatnya. Ah, potongan hati ini sulit untukku. Hujan, jangan berhenti menghujaniku.
Sebelumnya, terima kasih untuk mereka yang sudah memberiku semangat tiada henti dan tak henti bertanya-tanya mengapa tulisanku akhir-akhir ini adalah tentang kesedihan, keputus-asaan, dan kesia-siaan. Meski harusnya lebih tepat, pertanyaan tentang kapan aku selesai bercerita kisah cengeng seperti ini.
Maaf, kalau ada mereka yang menganggap ini bukan aku. Tapi seperti itulah sekarang. Aku berubah oleh waktu, mungkin sama seperti dia juga. Tapi aku berharap, semoga ini hanya untuk saat ini dan aku kembali seperti aku yang kalian maksud. Satu hal, aku memang begini adanya.
Kamis, 05 Februari 2009
Mengapa??
Mengapa disaat aku tidak siap dengan situasi ini,
dia datang di hadapanku?
Mengapa disaat aku tidak ingin melihatnya,
dia ada di depanku?
Mengapa disaat aku tidak ingin bertemu dengannya,
dia ada di dekatku?
Mengapa saat dia ada di dekatku,
tubuhku terasa kaku?
Tidak bisa berbuat apapun!
Saat itu,
yang ku rasakan hanya getaran itu,
yang ku dengar hanya detak jantungku,
yang ku rasakan darahku mengalir dengan derasnya, dan
yang ku inginkan hanya menjauh darinya.
Tapi saat jauh darinya, hatiku tidak tenang.
Ada yang ingin ku utarakan, tapi aku tak tahu bagaimana caranya.
Tuhan sudah mempertemukan aku dengannya berkali-kali,
tapi kau masih belum punya keberanian itu.
Kapan?
Kapan kesempatan itu datang?
Kapan lagi?
Disaat hati ini mantap berucap cinta padanya,
kesempatan itu tak kunjung datang.
Rasanya kesempatan itu tak akan pernah datang kembali.
***
Sesal yang kurasa kini.
Nampaknya aku tak kan pernah bisa bertemu dengannya lagi,
dan mengatakan padanya,
kalau aku cinta dia....
dia datang di hadapanku?
Mengapa disaat aku tidak ingin melihatnya,
dia ada di depanku?
Mengapa disaat aku tidak ingin bertemu dengannya,
dia ada di dekatku?
Mengapa saat dia ada di dekatku,
tubuhku terasa kaku?
Tidak bisa berbuat apapun!
Saat itu,
yang ku rasakan hanya getaran itu,
yang ku dengar hanya detak jantungku,
yang ku rasakan darahku mengalir dengan derasnya, dan
yang ku inginkan hanya menjauh darinya.
Tapi saat jauh darinya, hatiku tidak tenang.
Ada yang ingin ku utarakan, tapi aku tak tahu bagaimana caranya.
Tuhan sudah mempertemukan aku dengannya berkali-kali,
tapi kau masih belum punya keberanian itu.
Kapan?
Kapan kesempatan itu datang?
Kapan lagi?
Disaat hati ini mantap berucap cinta padanya,
kesempatan itu tak kunjung datang.
Rasanya kesempatan itu tak akan pernah datang kembali.
***
Sesal yang kurasa kini.
Nampaknya aku tak kan pernah bisa bertemu dengannya lagi,
dan mengatakan padanya,
kalau aku cinta dia....
Minggu, 01 Februari 2009
Andai Aku Bukan Aku
Dikala senja tiba, aku duduk dikursi di teras. Sambil memandang hamparan laut yang luas, mendengar deru ombak dan menikmati tiupan angin pantai yang seakan membisikan sesuatu ke telingaku.
Aku berpikir, andai saja aku adalah seseorang yang lain, aku akan jadi seperti apa?! Apakah aku akan menjadi malaikat baik hati, yang punya sayap untuk terbang ke surga? Apa aku akan jadi burung, yang terbang bebas di langit yang luas tanpa punya beban? Atau aku akan menjadi bebatuan yang diam, tidak bersuara dan tidak bergerak. Tanpa perlu menjadi sesuatu, tapi tetap bertahan menjadi dirinya. Ntah tidak punya pilihan atau memang lebih memilih seperti itu.
Tapi mengapa aku harus berandai-andai menjadi bukan aku? Haruskah aku menjadi bukan aku? Andai batu itu bisa berbicara, mungkin ia bangga menjadi dirinya. Dengan diam, tanpa berurusan dengan yang lain dan merasa tidak punya beban.
***
Lalu mengapa aku harus menjadi bukan aku? Bagaimanapun, aku tetap bangga menjadi aku tanpa harus menjadi bukan aku. Walau aku bukan siapa-siapa, tapi aku adalah aku.
Aku berpikir, andai saja aku adalah seseorang yang lain, aku akan jadi seperti apa?! Apakah aku akan menjadi malaikat baik hati, yang punya sayap untuk terbang ke surga? Apa aku akan jadi burung, yang terbang bebas di langit yang luas tanpa punya beban? Atau aku akan menjadi bebatuan yang diam, tidak bersuara dan tidak bergerak. Tanpa perlu menjadi sesuatu, tapi tetap bertahan menjadi dirinya. Ntah tidak punya pilihan atau memang lebih memilih seperti itu.
Tapi mengapa aku harus berandai-andai menjadi bukan aku? Haruskah aku menjadi bukan aku? Andai batu itu bisa berbicara, mungkin ia bangga menjadi dirinya. Dengan diam, tanpa berurusan dengan yang lain dan merasa tidak punya beban.
***
Lalu mengapa aku harus menjadi bukan aku? Bagaimanapun, aku tetap bangga menjadi aku tanpa harus menjadi bukan aku. Walau aku bukan siapa-siapa, tapi aku adalah aku.
Aku Jadi Apa
Disatu sore yang sepi, saat hari suda lelah berlari. Aku duduk di depan cermin, di kamarku tepatnya. Yang sebelumnya pikiranku menerawang jauh ntah kemana, tiba-tiba aku mulai berkonsentrasi pada diriku sendiri. Aku menatapi diriku, seraya berkata :
“Sebenarnya, siapa aku?”,
“Aku ini apa?” dan
“Mau jadi apa aku ini?”.
Tanpa ada yang menjawab, tetapi aku masih tetap menatapi diriku. Lalu berkata :
“Andai saja aku seperti mereka, bisa menjadi sesuatu dan menghasilkan sesuatu. Pasti aku akan sangat bangga dan sangat bahagia.” (pintanya)
“Tapi aku bukanlah apa-apa dan bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang biasa, yang menjalani hidupnya seperti air mengalir. Tanpa tahu, kemana tujuan terakhirnya.”
***
(Lalu kalimat itu muncul lagi,pertanyaan yang belum ada jawabannya sampai sekarang.)
“Aku mau jadi apa?!”
Tanpa sadar pikiranku seperti mengulang kembali ingatan-ingatan yang telah lalu, tentang mereka, yang menjadi inspirasiku, tanpa harus aku menjadi mereka.
Pertanyaan “Aku mau jadi apa?!” menjadi beban berat dalam pikiranku, karena belum ada yang bisa menjawabnya, termasuk aku.
Apa yang harus aku lakukan?
Bagaimana aku bisa menjadi sesuatu, tanpa tahu jawaban dari pertanyaanku sendiri?!
“Sebenarnya, siapa aku?”,
“Aku ini apa?” dan
“Mau jadi apa aku ini?”.
Tanpa ada yang menjawab, tetapi aku masih tetap menatapi diriku. Lalu berkata :
“Andai saja aku seperti mereka, bisa menjadi sesuatu dan menghasilkan sesuatu. Pasti aku akan sangat bangga dan sangat bahagia.” (pintanya)
“Tapi aku bukanlah apa-apa dan bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang biasa, yang menjalani hidupnya seperti air mengalir. Tanpa tahu, kemana tujuan terakhirnya.”
***
(Lalu kalimat itu muncul lagi,pertanyaan yang belum ada jawabannya sampai sekarang.)
“Aku mau jadi apa?!”
Tanpa sadar pikiranku seperti mengulang kembali ingatan-ingatan yang telah lalu, tentang mereka, yang menjadi inspirasiku, tanpa harus aku menjadi mereka.
Pertanyaan “Aku mau jadi apa?!” menjadi beban berat dalam pikiranku, karena belum ada yang bisa menjawabnya, termasuk aku.
Apa yang harus aku lakukan?
Bagaimana aku bisa menjadi sesuatu, tanpa tahu jawaban dari pertanyaanku sendiri?!
Kesekian Kalinya
Tepat tengah malam lewat tujuh belas menit sepuluh detik, aku terbangun. Refleks kulirik screen komputerku yang masih menyala dan online. Beberapa notification hadir. Tapi kesemuanya lebih pada peringatan yang berkomen tentang foto reuni kemarin. Argh..bukan itu yang aku tunggu, saudara-saudara! Maaf kalau tak bersambut komen.
"Dia online!"
Terus kenapa kalau dia online? Apa aku akan menyapanya? Tidak juga, bukan? Lalu apa?
Yang aku tau, dialah alfa yang membuka pintu ini untuk menerima perasaan pahit seperti: cinta. Kenapa harus aku yang menerimanya? Apa memang karena aku ini adalah objek derita yang paling empuk untuk dijadikan sasaran?
"Hahahaha... Kinar..Kinar.. kamu adalah gadis yang bodoh!" kataku pada diriku dalam cermin. "Mana mungkin laki-laki seperti dia mau padamu! Dia pasti punya standar yang super tinggi untuk memilih siapa wanita yang pantas untuk bersanding dengannya! Mana mau dia dengan kamu yang setiap setelah kuliah pulang ke rumah dan autis dengan laptopnya. Mana mau dia dengan penulis bodoh yang hanya bisa memimpikan keajaiban itu datang pada dia untuk tau kalau kamu suka dia! Mana ma..."
PROK..PROK..PROK..
Seseorang bertepuk tangan di belakangku. Aku menoleh. Ternyata Ara. Wajahnya mendengus. Aku rasa dia sudah berada di situ untuk beberapa saat.
"Masih panjang daftar kepecundanganmu untuk kamu sebutkan, hah?" ucap Ara dengan straight to the point. Aku kehilangan kata-kata. Pertanyaan Ara membuat aku beku.
"Apa dia sebegitu hebatnya kah, Kinar?" Ara menekan suaranya pada saat sebut namaku. Aku tau dia marah.
Wajahku mulai memanas. Rasanya seperti kesemutan. "Ara..."ucapku lemah.
"Hahahaha.. seorang Kinar penulis terkenal dan punya reputasi baik di manapun dia berada, ternyata bisa terpatahkan oleh dia." suara Ara sangat terdengar menyindir. Kakiku mulai goyah. Badan ini agak kehilangan keseimbangan.
"Apa karena dia? Erlangga Wijaya sang idola tiada tara itu?!" Ara menyebut nama itu dengan jelas sekali.
"Bukan.." jawabku masih lemah.
"Bukan apa?!"
"Bukan itu, Ara."
"Hahahaha... masih saja berkelit." Ara semakin kesal.
"Aku.. sudah coba buat melupakan dia. Tapi.." Aku ragu melanjutkan ucapanku. Karena semakin aku melanjutkan apa yang akan aku katakan, semakin aku menggila untuk terus menempatkan dia di dalam otakku.
"Tapi aku masih suka sama dia, Ara! Aku masih terobsesi sama dia!" Ara melanjutkan dengan suara setengah berteriak.
Aku tak tahan lagi. Wajah dan hatiku sudah terlalu panas. Pandanganku pun sudah ikut melamur dengan air mata yang menggenang beberapa detik lalu. Aku pun mengangkat kakiku dan pergi keluar kamar. Aku berjalan meninggalkan kamar dengan langkah cepat. Oh, sepertinya aku harus keluar dulu dari sini untuk menenangkan hati dan pikiranku.
Kakiku yang melangkah, tak pikirkan arah. Karena pikiranku sedang sibuk dipakai untuk mereka ulang apa yang tadi dikatakan Ara. Semua kata-katanya terbayang dan berputar-putar di kepalaku. Ara. Kenapa kamu katakan itu padaku?
Ara duduk lemas di kasur Kinar. Badannya tidak dalam posisi tegap. Kepalanya pun menunduk. Tes. Ternyata Ara meneteskan air mata. "Kinar, ini semua demi kamu." bisiknya lirih.
Dipandanginya deretan foto-foto yang terpajang di dinding kamar Kinar. Dari semua foto-foto, Ara tau, foto mana yang berarti buat Kinar. Yaitu foto: New York, Brooklyn Bridge, Aussie, Boston, dan beberapa tempat yang Ara tak tau jelas detail tempatnya. Foto-foto tempat di luar negeri yang pernah di kunjungi Erlangga Wijaya. Ara tau jawaban Kinar, "Ara, dia pernah ke tempat-tempat itu berkat otaknya. Helloow.. tidakkah dia memang hebat?"
Entah sampai kapan Kinar akan seperti itu. Tapi dalam hati, Ara berjanji untuk berusaha melakukan yang terbaik untuk Kinar.
Tengah malam dan aku sendiri berjalan tanpa arah menyusuri jalan perumahan yang lengang. Pikiranku kosong. Sama seperti hatiku juga. Suara gonggongan anjing terdengar beberapa kali. Suaranya jauh sekitar beberapa blok dari tempat aku berjalan. Tak lama aku melihat kilat. Seperti semesta mengambil gambarku yang gamang. Lalu, diikuti dengan dentuman marah langit berupa petir. Gagah sekali. Menunjukkan kemegahan suara memecah kesunyian malam. Aku tersenyum. Tepatnya, mencoba tersenyum.
Tuhan, biarkan aku menikmati malam ini bersama apa yang telah atau akan Kamu berikan padaku.
Langkah ini memelan. Tapi tetap berjalan. Kulihat langit sudah bersih dari bintang. Tanda mendung menggantung manja di sana. Dan dilanjutkan dengan gerimis hujan yang datang. "Hujan...hapuskan memoriku tentangnya. Please..."
"Dia online!"
Terus kenapa kalau dia online? Apa aku akan menyapanya? Tidak juga, bukan? Lalu apa?
Yang aku tau, dialah alfa yang membuka pintu ini untuk menerima perasaan pahit seperti: cinta. Kenapa harus aku yang menerimanya? Apa memang karena aku ini adalah objek derita yang paling empuk untuk dijadikan sasaran?
"Hahahaha... Kinar..Kinar.. kamu adalah gadis yang bodoh!" kataku pada diriku dalam cermin. "Mana mungkin laki-laki seperti dia mau padamu! Dia pasti punya standar yang super tinggi untuk memilih siapa wanita yang pantas untuk bersanding dengannya! Mana mau dia dengan kamu yang setiap setelah kuliah pulang ke rumah dan autis dengan laptopnya. Mana mau dia dengan penulis bodoh yang hanya bisa memimpikan keajaiban itu datang pada dia untuk tau kalau kamu suka dia! Mana ma..."
PROK..PROK..PROK..
Seseorang bertepuk tangan di belakangku. Aku menoleh. Ternyata Ara. Wajahnya mendengus. Aku rasa dia sudah berada di situ untuk beberapa saat.
"Masih panjang daftar kepecundanganmu untuk kamu sebutkan, hah?" ucap Ara dengan straight to the point. Aku kehilangan kata-kata. Pertanyaan Ara membuat aku beku.
"Apa dia sebegitu hebatnya kah, Kinar?" Ara menekan suaranya pada saat sebut namaku. Aku tau dia marah.
Wajahku mulai memanas. Rasanya seperti kesemutan. "Ara..."ucapku lemah.
"Hahahaha.. seorang Kinar penulis terkenal dan punya reputasi baik di manapun dia berada, ternyata bisa terpatahkan oleh dia." suara Ara sangat terdengar menyindir. Kakiku mulai goyah. Badan ini agak kehilangan keseimbangan.
"Apa karena dia? Erlangga Wijaya sang idola tiada tara itu?!" Ara menyebut nama itu dengan jelas sekali.
"Bukan.." jawabku masih lemah.
"Bukan apa?!"
"Bukan itu, Ara."
"Hahahaha... masih saja berkelit." Ara semakin kesal.
"Aku.. sudah coba buat melupakan dia. Tapi.." Aku ragu melanjutkan ucapanku. Karena semakin aku melanjutkan apa yang akan aku katakan, semakin aku menggila untuk terus menempatkan dia di dalam otakku.
"Tapi aku masih suka sama dia, Ara! Aku masih terobsesi sama dia!" Ara melanjutkan dengan suara setengah berteriak.
Aku tak tahan lagi. Wajah dan hatiku sudah terlalu panas. Pandanganku pun sudah ikut melamur dengan air mata yang menggenang beberapa detik lalu. Aku pun mengangkat kakiku dan pergi keluar kamar. Aku berjalan meninggalkan kamar dengan langkah cepat. Oh, sepertinya aku harus keluar dulu dari sini untuk menenangkan hati dan pikiranku.
Kakiku yang melangkah, tak pikirkan arah. Karena pikiranku sedang sibuk dipakai untuk mereka ulang apa yang tadi dikatakan Ara. Semua kata-katanya terbayang dan berputar-putar di kepalaku. Ara. Kenapa kamu katakan itu padaku?
***
Ara duduk lemas di kasur Kinar. Badannya tidak dalam posisi tegap. Kepalanya pun menunduk. Tes. Ternyata Ara meneteskan air mata. "Kinar, ini semua demi kamu." bisiknya lirih.
Dipandanginya deretan foto-foto yang terpajang di dinding kamar Kinar. Dari semua foto-foto, Ara tau, foto mana yang berarti buat Kinar. Yaitu foto: New York, Brooklyn Bridge, Aussie, Boston, dan beberapa tempat yang Ara tak tau jelas detail tempatnya. Foto-foto tempat di luar negeri yang pernah di kunjungi Erlangga Wijaya. Ara tau jawaban Kinar, "Ara, dia pernah ke tempat-tempat itu berkat otaknya. Helloow.. tidakkah dia memang hebat?"
Entah sampai kapan Kinar akan seperti itu. Tapi dalam hati, Ara berjanji untuk berusaha melakukan yang terbaik untuk Kinar.
***
Tengah malam dan aku sendiri berjalan tanpa arah menyusuri jalan perumahan yang lengang. Pikiranku kosong. Sama seperti hatiku juga. Suara gonggongan anjing terdengar beberapa kali. Suaranya jauh sekitar beberapa blok dari tempat aku berjalan. Tak lama aku melihat kilat. Seperti semesta mengambil gambarku yang gamang. Lalu, diikuti dengan dentuman marah langit berupa petir. Gagah sekali. Menunjukkan kemegahan suara memecah kesunyian malam. Aku tersenyum. Tepatnya, mencoba tersenyum.
Tuhan, biarkan aku menikmati malam ini bersama apa yang telah atau akan Kamu berikan padaku.
Langkah ini memelan. Tapi tetap berjalan. Kulihat langit sudah bersih dari bintang. Tanda mendung menggantung manja di sana. Dan dilanjutkan dengan gerimis hujan yang datang. "Hujan...hapuskan memoriku tentangnya. Please..."
***
Sabtu, 31 Januari 2009
Terlalu Jauh Ah!
"Anjrit gue telat nih!"
"Secepat mungkin gue lari. Pokoknya gue harus lari sebelum aku menangis karena tak berhasil mengikuti kuliah paling mematikan abad ini."
Suasana kampus menurutku sedang tahap penuh-penuhnya. Mungkin ini lagi masa pancaroba. Begitu aku menyebutnya. Saat di mana mahasiswa yang datang akan bersimpangan dengan mahasiswa yang akan pulang. Hehehe. Aneh ya? Bukan kalian aja kok yang ngerasa aneh. Aku juga gitu.
"Shit! Rame banget! Bisa mati gaya gue!" Langkahku percepat. Kepala ini agak tertunduk. Sial!
"Ah kalo lagi sepi juga, gue suka mati gaya kok. Hehe." pikirku lagi.
STOOOOOOOOP!!! Lihat itu siapa?!!
"Itu, kan?"
dugdug..dugdug..dugdug..
"Oh..lemas rasanya. Debaran ini mengahabiskan energi gue. Dia. Ya itu dia. Benar dia."
Dia yang setiap malamnya aku nantikan untuk online chat di facebook. Meskipun lebih sering saling diam tak bicara dan hanya terus terpaku memperhatikan dan memastikan dia sedang online. Hebat sekali, kan aku?
Ketololan untuk mencari-cari tau kabarnya melalui status-status yang dia tulis. Hanya untuk mencari, melihat, dan... mendiamkannya. Harusnya sih, kata Dita, aku menyapanya saja. Oh mudah baginya bicara seperti itu. Bagiku? Fiuw! Mendingan ikut fear factor di gantung pake helikopter deh!
Kalau aku menyapanya, humm, bunuh aku sekarang juga! Mana mungkin aku menyapanya. Meski aku dulu pernah mengenalnya, bahkan lebih dari sekedar kenal, tetap saja aku membatu seketika. Aku ingatkanmu ya, dia sudah bukan sosok yang aku kenal lagi. Perjalanan waktu telah mengubahnya. Mentransformasinya menjadi dia pada zat lain. Aku dan dia sudah bukan senyawa yang senang sedih sama-sama. OK, aku berlebihan untuk ungkapkan ini. Tapi itulah realita pada saat itu. Saat yang takkan mungkin bisa kembali atau terganti.
Entahlah apa tindakan dan sikapku benar? Hanya diam. Mencuri pandang dan mencuri informasi tentangnya. Urgh..andai aku juga bisa mencuri hatinya (belajar ama Dewi Persik nih!) Yeah, i wish! Mungkin sampai kapanpun usaha pencurian hatinya akan selalu gagal dan terpatahkan oleh satu hal, yaitu: ketakutanku!
Meski sederhana tapi itu adalah masalah serius. Pikir orang, aku bodoh untuk melewatkannya. Aku bodoh untuk tidak menggencarkan serangan padanya. Dita bilang, "at least dia tau perasaan lo!"
"Hah? Dia tau? Hanya sekedar tahu saja?"
Mungkin pikirku dia tak perlu tau. Aku cukup menikmati kok. Biarkan aku mencintai bayangannya saja. Itu pun kalau masih bisa. Dia udah terlalu jauh berlari. Hingga aku jauh tertinggal darinya. Aku nggak bisa meyakinkan diri, harus barapa meter lagi untuk aku bisa menggapainya? Sudahlah. Tak mau pikirkan itu.
By the way, dia yang sekarang sedang pusing dilanda penyelesaian skripsinya nih. Oh pasti dia sekarang sedang sibuk menambah jam riset buat skripsinya. Yang aku bisa katakan dari sini hanyalah, "selamat berjuang ya, Sayang"
"Secepat mungkin gue lari. Pokoknya gue harus lari sebelum aku menangis karena tak berhasil mengikuti kuliah paling mematikan abad ini."
Suasana kampus menurutku sedang tahap penuh-penuhnya. Mungkin ini lagi masa pancaroba. Begitu aku menyebutnya. Saat di mana mahasiswa yang datang akan bersimpangan dengan mahasiswa yang akan pulang. Hehehe. Aneh ya? Bukan kalian aja kok yang ngerasa aneh. Aku juga gitu.
"Shit! Rame banget! Bisa mati gaya gue!" Langkahku percepat. Kepala ini agak tertunduk. Sial!
"Ah kalo lagi sepi juga, gue suka mati gaya kok. Hehe." pikirku lagi.
STOOOOOOOOP!!! Lihat itu siapa?!!
"Itu, kan?"
dugdug..dugdug..dugdug..
"Oh..lemas rasanya. Debaran ini mengahabiskan energi gue. Dia. Ya itu dia. Benar dia."
Dia yang setiap malamnya aku nantikan untuk online chat di facebook. Meskipun lebih sering saling diam tak bicara dan hanya terus terpaku memperhatikan dan memastikan dia sedang online. Hebat sekali, kan aku?
Ketololan untuk mencari-cari tau kabarnya melalui status-status yang dia tulis. Hanya untuk mencari, melihat, dan... mendiamkannya. Harusnya sih, kata Dita, aku menyapanya saja. Oh mudah baginya bicara seperti itu. Bagiku? Fiuw! Mendingan ikut fear factor di gantung pake helikopter deh!
Kalau aku menyapanya, humm, bunuh aku sekarang juga! Mana mungkin aku menyapanya. Meski aku dulu pernah mengenalnya, bahkan lebih dari sekedar kenal, tetap saja aku membatu seketika. Aku ingatkanmu ya, dia sudah bukan sosok yang aku kenal lagi. Perjalanan waktu telah mengubahnya. Mentransformasinya menjadi dia pada zat lain. Aku dan dia sudah bukan senyawa yang senang sedih sama-sama. OK, aku berlebihan untuk ungkapkan ini. Tapi itulah realita pada saat itu. Saat yang takkan mungkin bisa kembali atau terganti.
Entahlah apa tindakan dan sikapku benar? Hanya diam. Mencuri pandang dan mencuri informasi tentangnya. Urgh..andai aku juga bisa mencuri hatinya (belajar ama Dewi Persik nih!) Yeah, i wish! Mungkin sampai kapanpun usaha pencurian hatinya akan selalu gagal dan terpatahkan oleh satu hal, yaitu: ketakutanku!
Meski sederhana tapi itu adalah masalah serius. Pikir orang, aku bodoh untuk melewatkannya. Aku bodoh untuk tidak menggencarkan serangan padanya. Dita bilang, "at least dia tau perasaan lo!"
"Hah? Dia tau? Hanya sekedar tahu saja?"
Mungkin pikirku dia tak perlu tau. Aku cukup menikmati kok. Biarkan aku mencintai bayangannya saja. Itu pun kalau masih bisa. Dia udah terlalu jauh berlari. Hingga aku jauh tertinggal darinya. Aku nggak bisa meyakinkan diri, harus barapa meter lagi untuk aku bisa menggapainya? Sudahlah. Tak mau pikirkan itu.
By the way, dia yang sekarang sedang pusing dilanda penyelesaian skripsinya nih. Oh pasti dia sekarang sedang sibuk menambah jam riset buat skripsinya. Yang aku bisa katakan dari sini hanyalah, "selamat berjuang ya, Sayang"
Aku yang Menyukainya
Aku mengawang. Terlentang. Menatap langit membentang. Mencoba berteriak lantang. Untuk hilangkan rasa terbayang.
"Kira-kira apa dia melihat langit yang sama denganku?"
Lagi, kuhirup udara dengan dalam-dalam. Entah sudah keberapa puluh juta kali, semenjak aku berada di sini. Aku tak mampu menghitungnya. Sama tak mampunya, untuk aku menghitung bintang-bintang yang berpendar di atas sana.
Oh apa yang aku pikirkan? Dia yang sebentar lagi sidang, wisuda, lulus, dan dengan jelas akan pergi meninggalkan aku, kenapa aku masih sama?
Mungkin mulai sekarang, aku harus merelakannya. Menganggapnya sudah tak lagi menjadi salah satu tokoh yang ada di dalam kisahku.
Ingin sekali aku berteriak TOLOL untuk diriku. Atas segala kebodohan dan kepecundanganku. Atas segala detik yang terlewat untukku memandanginya dari kejauhan. Kalian boleh tertawa. Tapi di dalam sini sakit. Sa-kit.
Jujur rasa ini semakin menggila dan mengganas. Tatkala aku benci untuk menjadi aku yang tak bisa punya keberanian untuk sekedar menyapa, "Hai" saja.
Mungkin aku akan menyesali untuk setiap kesempatan yang terlewat dan dia yang kulewatkan. Mungkin aku akan terus begini, menanti tak pasti, tanpa ada ada, cerita lagi.Terakhir, mungkin aku akan menangis di akhir episodenya nanti.
Hari ini aku bertemu dengannya. Oh, ralat aku hanya berdiri di suatu tempat dan hanya diam sambil melihatnya di kejauhan. Entah berapa jarak kami. Konsentrasiku hanya tertuju padanya.
Dia memakai polo shirt coklat kopi. tak lupa tas kulit berbentuk kotak yang ia selempangkan melintas bahu dan dada bidangnya. Wajahnya yang menyiratkan karisma mahadahsyat mampu membuat jantungku berdetak di atas rata-rata. Aku rasa bangunan ini akan roboh. Oh bicara apa aku ini? Hahaha. Mana mungkin bangunan semegah dan kokoh seperti gedung kampusku ini akan roboh hanya karena jantungku?
Aku ini apa? Pemimpi? Yeah, mungkin sebutan itu pantas untukku. Aku pemimpi. Tambahannya adalah pemimpi yang tolol. Jelas dia itu bagai awan. Aku tak mungkin menggapainya. Hanya bisa kupandangidari jauh. Kalaupun aku dekat, aku hanya akan meraih udara kosong tanpa wujud.
Sungguh pesonanya membunuhku. Sudahlah. Berhenti pikirkan dia. Aku lelah. Aku ingin tidur sekarang. Sampai jumpa semuanya. Bangunkan aku besok pagi. Untuk semua kisah yang baru dan untuk aku yang menyukainya.
"Kira-kira apa dia melihat langit yang sama denganku?"
Lagi, kuhirup udara dengan dalam-dalam. Entah sudah keberapa puluh juta kali, semenjak aku berada di sini. Aku tak mampu menghitungnya. Sama tak mampunya, untuk aku menghitung bintang-bintang yang berpendar di atas sana.
Oh apa yang aku pikirkan? Dia yang sebentar lagi sidang, wisuda, lulus, dan dengan jelas akan pergi meninggalkan aku, kenapa aku masih sama?
Mungkin mulai sekarang, aku harus merelakannya. Menganggapnya sudah tak lagi menjadi salah satu tokoh yang ada di dalam kisahku.
Ingin sekali aku berteriak TOLOL untuk diriku. Atas segala kebodohan dan kepecundanganku. Atas segala detik yang terlewat untukku memandanginya dari kejauhan. Kalian boleh tertawa. Tapi di dalam sini sakit. Sa-kit.
Jujur rasa ini semakin menggila dan mengganas. Tatkala aku benci untuk menjadi aku yang tak bisa punya keberanian untuk sekedar menyapa, "Hai" saja.
Mungkin aku akan menyesali untuk setiap kesempatan yang terlewat dan dia yang kulewatkan. Mungkin aku akan terus begini, menanti tak pasti, tanpa ada ada, cerita lagi.Terakhir, mungkin aku akan menangis di akhir episodenya nanti.
***
Hari ini aku bertemu dengannya. Oh, ralat aku hanya berdiri di suatu tempat dan hanya diam sambil melihatnya di kejauhan. Entah berapa jarak kami. Konsentrasiku hanya tertuju padanya.
Dia memakai polo shirt coklat kopi. tak lupa tas kulit berbentuk kotak yang ia selempangkan melintas bahu dan dada bidangnya. Wajahnya yang menyiratkan karisma mahadahsyat mampu membuat jantungku berdetak di atas rata-rata. Aku rasa bangunan ini akan roboh. Oh bicara apa aku ini? Hahaha. Mana mungkin bangunan semegah dan kokoh seperti gedung kampusku ini akan roboh hanya karena jantungku?
Aku ini apa? Pemimpi? Yeah, mungkin sebutan itu pantas untukku. Aku pemimpi. Tambahannya adalah pemimpi yang tolol. Jelas dia itu bagai awan. Aku tak mungkin menggapainya. Hanya bisa kupandangidari jauh. Kalaupun aku dekat, aku hanya akan meraih udara kosong tanpa wujud.
Sungguh pesonanya membunuhku. Sudahlah. Berhenti pikirkan dia. Aku lelah. Aku ingin tidur sekarang. Sampai jumpa semuanya. Bangunkan aku besok pagi. Untuk semua kisah yang baru dan untuk aku yang menyukainya.
Langganan:
Postingan (Atom)