.sahabat

.sahabat

Sabtu, 31 Januari 2009

Lara : Aku mau hidup seratus tahun lagi! (episode 1)

ini tentang si Lara.
Gadis delapanbelas tahun yang hidupnya komplikatif.
Namanya Lara. Lara Jaques. Dua tahun sebelum saat ini, ia berumur enambelas. Hidupnya menyenangkan dan sangat baik-baik saja. Sampai akhirnya, satu siang yang damai, di mana telah dipesannya 80 tusuk sate ayam plus kambing di tempat favorit teman segengnya Lara.

Lara kecelakaan..

Dua minggu lebih 4 hari setelah itu. Ayah dari ibunya yang menjadi kakek nya, berpulang. Satu hit yang sangat mengena untuk Lara yang sangat dekat dengan beliau. Satu bulan setelah berpulangnya sang kakek, ia memutuskan untuk D.O dari universitas ternama di Bandung dengan alasan yang menghebohkan seantero kampus.

Setengah bulan setelahnya, Lara menjerit miris di ibukota. Ia tak bisa menerima kenyataan yang dialaminya. Lara bilang ini seperti "sudah jatuh, tertimpa tangga, keinjek gajah, dan di giles setum ampe gepeng"

[di sebuah rumah sakit kenamaan ibukota sonoan dikit]

"Ini hasil LAB nya, mbak" kata si suster. "Langsung ke ruangan Dokter Janarko saja ya, mbak.." masih si suster.
"Oke, thanks ya, mbak.." Lara sambil nyengir.

[ruangan si pak dokter]

"OK, Lara.. mau di lihat sekarang apa nunggu tantemu selesai dr kamar operasi?" Pak dokter.
"Sekarang aja, dok.. nunggu tante mah lama, keburu basi deh.. hehe"
"Kamu siap?"
"Nah, dokter ini gimana, udah siapa dari tadi ah."
"Baik, kamu harus tenang mendengarnya"
"sepsep lah, dok"

Hening.

"Begini, ini sangat jarang terjadi, saya juga tak mau mengejutkan kamu, saya hanya bicara based on the reality yah, oke?"
"Oke, emang ada apa sih, dok?" Lara mulai gelisah.
"Benturan di kepalamu membuat retak sedikit tengkorak bagian kiri, ini agak menyulitkan peredaran darah ke otak, namanya branchical py****. Ini ada konjugasi dengan lipatan otot di pundak mu yang terbentur cukup keras.. bblalabalabalablalabablabla..."

Lara? Wajahnya pasi, keringet dingin, matanya melotot, tenggorokannya kering, mulutnya membentuk A yang besar. Lara sama sekali tak menyangka hasil dari citiscan yang ia minta untuk mengetahui kenapa ia sering sakit kepala belakangan malah jadi membuat situasi tambah rumit..Lara tak tau apa yang harus ia lakukan, tak mungkin ia menangis di depan dokter yang adalah teman sejawat tantenya..

Suasana hening lagi. Sementara kepala Lara semakin terasa sangat berat.

"dok.."Lara mulai sedikit gugup. "kemungkinan terburuk?"
"Saya tak bisa pastikan, tapi kalau kamu rajin terapi dan Tuhan mengizinkan. Semua akan baik-baik saja, Lara. Tenanglah.."dokter menuliskan entah apa di dokumen riwayat kesehatan Lara.
"Kalau tidak terapi dan urusan medik yang lain-lainnya?" Lara menahan tangis.
"Lara, kamu harus menjalani itu semua. Beside, kamu harus selalu tenang, tak banyak pikiran, menjaga kondisi tubuh supaya semuanya lancar. Kamu harus berobat dan berdoa."
"Saya tanya, kemungkinan terburuk dari itu semua, dok.."
". . ."
"Dok, saya mau tau!"
"Tapi.."
"Tolong, dok.."
"Baik. Penurunan kapasitas darah dan oksigen di otak menghambat proses kerja otak mu. Dan itu tak bisa dibiarkan terus menerus. Ditambah lagi kamu suka beraktifitas, intensitasnya pun tinggi, ini berbahaya untukmu, Nak."
Sontak Lara terbangun dari ketakutannya, ucapan dokter itu terlalu sulit dan tak bisa di mengerti. Satu hal yang Lara tangkap adalah ia tak bisa melakukan hal berat dan berfikir cepat lagi. Ia mati sebelum jasadnya tak berdaya. Lara akhirnya menangis.

"Berapa tahun?"
"Saya tak bisa pastikan. Tapi.."
"Berapa tahun, Dok?"
"Dua tahun pertama ini akan sangat sulit.."
"Dua tahun?" Lara putus asa.
"Tapi, kita bisa upayakan hal-hal lainnya. Kamu kuat, Lara!"
"Han.."
"Kita bisa lakukan tindakan medik baik nonmedik untuk itu, kamu harus tenang, ini tak boleh menghambat dan memperburuk kondisi mu."
"syalallalalalala..lalilulelo,...nanannanana" suara Dokter mendadak tak bisa terjangkau oleh Lara. Dia sudah kalut.
Lara pulang. Lara sendirian. Lara menangis saat tertawa.

Sampai di rumah, Lara menulis..

Aku sudah mati.
Sekarang apa lagi?
Setelah semuanya pikir hanya mimpi.
Aku mati.
Semua cita-citaku terasa harus berhenti, hanya sampai disini.
Sekarang apa lagi?
Apa yang ku punya selain otak untuk berfikir dan hati untuk merasa.
Aku mati. Tak ada lagi. Hanya mimpi. Tinggal nama. Sudah mati. Mati sudah.

*LARA*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar