.sahabat

.sahabat

Sabtu, 31 Januari 2009

Langit : Air mata itu? (episode 4)

"Mengapa aku memiliki keberanian saat itu? Ah mungkin tawaranku waktu itu, hanya sebuah tindakan manusiawi saja. Tidak lebih.

Tapi...kenapa sampai saat ini aku memikirkannya ya?" Langit bicara dan tersenyum sendiri kemudian.

Namanya Lara. Kenapa harus Lara? Apa karena dia selalu sedih waktu kecilnya? Uhmm..kurasa tidak. Atau karena dulu ibunya saat hamil ngidam durian? Ah! Apa hubungannya?

Lara. Identik dengan kesedihan. Itu sih yang aku tangkap. Lalu, bukan salahku, kan? Kalau aku langsung mengaitkannya dengan kesedihan.

Lara. Nama yang juga membuatku latah untuk bertanya-tanya. Apa perlu sampai aku hubungi ayah ibunya untuk bertanya alasan kenapa gadis itu bernama Lara?

Haha.. bodohnya! Mana mungkin aku berani? Detik setelah aku menyapanya saja, sudah membuat jantungku berubah fungsi jadi mesin pengebor sumur. Apa jadinya kalau aku berbincang banyak dengannya siang itu, apalagi sampai menyentuh pembicaraan yang privasi. Uh. Mana mungkin.

"Harusnya memang pemilu ulang gubernur Jatim itu nggak usah diadakan lagi. Bagaimana bisa masyarakat Jatim terkatung-katung dengan kekosongan pemerintahan?"

"..." Langit masih melamun.

"Harusnya mereka sadar, bahwa pemilu itu menyedot uang yang tidak sedikit jumlahnya."

"..."

"LANG!" seseorang membentak Langit.

Sontak Langit kaget. "Eeh..ya.. bagaimana?"

"Sodara Langit, Anda sedang berada di mana? blablabla..."

Langit terganggu. Ia terganggu dengan wanita bernama Lara. Baru kali ini pikirannya bercabang dan tidak fokus.

***

Kali ini berganti tempat. Lelah dengan diskusi panjang tentang isu nasional, Langit masih harus berkutat dengan berita. Daftar panjang untuk membuatnya terus menulis tak juga menghentikan aktivitasnya hari itu. Harusnya tengah malam begini, Langit sudah tertidur. Menyiapkan energi untuk besok yang unpredictable.

Langit membuka halaman baru. Lalu ia pun mulai menulis. Kali ini adalah jurnal pribadinya.

Di tengah hari yang terik membakar seluruh isi kota ini. Aku seketika terjatuh pada sebuah oase firdaus. Lara. Meski matanya nanar entah karena apa, tapi aku melihatnya begitu dahsyat. Aku tak bisa deskripsikan jenis magnet apa itu. Lara. Akankah aku bisa bertemu denganmu lagi?

Saved.

Langit menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya yang nyaman. Pandangannya lurus mengawang.

"Air mata itu..."

Langit memejamkan matanya. Ingin sekali dia memahami semua seketika. Ah... Kini hanya dia dan keheningan yang mengitarinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar