Lara melihat dia; Langit.
"Maaf, permisi."
Lara berucap dengan bibir mungilnya dan matanya yang berair. Langit menatapnya bagai melihat malaikat menjelma jadi bidadari.
Pertemuan itu pertemuan pertama yang membuat Langit terkesima. Sebelum taxi membawa Lara pergi meninggalkan tempat Langit.
Lara masih terngiang apa yang Pak Dokter telah katakan.
"Apa?? Dua tahun?? Apa yang bisa ku lakukan untuk dua tahun? Aku ga sanggup. Ini seperti tak adil untukku." ungkap Lara di dalam hati.
Lara menangis lagi. Mencoba menghubungi temannya; Nesta.
"Nes.."
"Kenapa, La? Sibuk nih gue. Ntar aja lah yah. Bye." jawab Nesta.
Tuut..tuut..tuut..
Tak tahan lagi, Lara menangis sejadinya. Lara merasa sangat sendiri dan kecewa. Lara melihat langit yang membiru.
"Langit, meski aku begitu kecil terlihat dari mu. Andai ku bisa menggapai mu,
mengambil sedikit biru mu untuk tenangkan hati yang resah ini.." Lara bercerita pada
langit.
[rumah Lara]
Jeritan handphone Lara.
"Halo, La. Kenapa? Tadi ada apa?" Nesta (lagi)
". . ." Lara diam dan meloncat ke kasurnya. Ia membenamkan wajahnya di bantal.
"LA???? HALOOOOWWWWW!!!!?"
"Iya, Ta.."
"Koq diem si? Kenpa tadi lo telp gue?"
"Ta, tadi gua ke dokter, periksain kepala gue, dan.." Lara berhenti.
"Apaan si, La? Cepetan deh, gue ribet nih.."
"Oh, kalo sibuk, ntar lagi aja, Ta. Gue ngga papa koq.."
"Lo tu gmn si? Gue ude telp, eh, malah diem.. Paan si?"
"Ta, dokter vonis gua! Gua sakit, Ta! Gua bakal mati dua tahun lagi!" Lara meledak.
"Apa, La? O..okey.. Gue.. emm.. lagi ribet.. ntar aje dah ya.. bye." Nesta bimbang.
Lara menulis :
Adakah yang lain yang bisa mengerti aku selain langit dan hiasannya?Apakah aku begitu hina hingga saat sulit pun aku di nista?Aku sendiri disini, tanpa teman, hanya rintik hujan.Aku akan mati, tak lama lagi.Aku mau hidup, seratus tahun lagi.*LARA
**dua minggu kemudian**
[ruangan pak dokter]
"Lara, bagaimana keadaan mu?" Pak Dokter.
"Luar biasa, dok.. Lihat saya hari ini, sungguh bahagia kan, Dok?"
"Saya yakin kamu kuat, Lara. Kamu takan menyerah sampai kapan pun."
"Harusnya begitu, dok.. Jadi, apa yang harus saya lakukan sekarang?"
"Lara.." Dokter menekan suaranya dan setengah memohon.
"Ya, Dok??" Lara penasaran.
"Kamu harus bicara pada orangtua mu.."
"Tidak!"
"OK, at least, your aunty.."
"NO!"
"you hav.."
"I said NOT! Saya ga mau, dok.. Please.." Raut air muka Lara berubah.
"Tapi banyak pertimbangannya, Lara. Biaya pengobatanmu, kondisi badan mu, siapa
yang akan merawat mu, Lara?"
"Saya punya dokter yang hebat di depan mata saya, saya bisa jaga diri saya sendiri,
dokter.. Dokter hanya perlu beritahu saya, apa yang harus saya lakukan. Hanya itu,
dokter baik hati.." Lara sambil cengar-cengir, berusaha mencairkan suasana.
"Kamu ini ya, Lara. Kamu memang berbeda!"
Lara mengambil obat-obatannya dan pamit dari ruangan Pak Dokter.
Saat ia mencari taxi, ada seorang pria yang menghampiri Lara.
"Mau pakai taxi?"
"Eh, iya.. Maaf.."
"Hmm..Langit." sambil lelaki ini mengulurkan tangannya.
Lara sejenak memandangi tangan yang terulur meminta balas jabat.
"Eh, umm, Lara." Lara salah tingkah dan menyambut Langit.
"Lara?"
"Langit?"
"Hahahhahaha" suara renyah dari mereka memecah panas siang di ibukota itu.
Lara duduk di dalam taxi, tak sengaja ia menatap langit nan cerah.
Sontak itu mengingatkan Lara akan seseorang. Langit.
"Langit.. La-ngit.. Namanya Langit." dalam hati..Lara mengambil pena nya dan menulis dalam notes merahnya.
LANGIT.
Indah. Cerah. Hangat. Biru. Tenang.Ah, langit.. Kau harus tau siapa Langit yang ku temui tadi siang.Langit yang ramah. Langit yang menarik. Ia menenangkan ku: langit. Langitku, La-ngit-ku. Biru yang tenang dan menghangatkan.
Aku suka Langit!
.sahabat
Sabtu, 31 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar