"Hah? Langit? Beneran namanya Langit?" wajahnya membentuk seraut aneh, menjelaskan keingintahuannya yang begitu kuat.
"Seriusan namanya.. umm..La-ngit?"
Hahaha. Itu yang dia tanyakan ketika kali pertama kami bertemu. Aku cukup gugup. Karena aku melihat sekilas senyum yang ia lempar padaku.
Kalau aku mengingatnya, aku selalu merasa momen itu yang paling memorable. Hmm.. well, itu pertama kalinya seorang cewek membuatku sulit melupakannya. Lucu memang. Tapi ya seperti itu adanya.
Namanya Lara. Biasa kusebut dia: gadisku. Itu panggilan khusus buatnya. Entah alasan apa yang mendasariku untuk memanggilnya dengan ucapan seperti itu. Aku tau, dia selalu bergidik pelan diikuti dengan senyum tersipunya, yang membuat wajahnya meranum cantik.
Aku suka.
Dia gadisku. Haha. Meski dia slalu menganggapku aneh dengan panggilan itu padanya, tapi dia tidak pernah sekalipun marah.
Lara, gadisku yang ceria.
Tapi kini...
Aku hanya bisa diam saja. Dia sudah pergi. Meninggalkan lara lain di benak ini. Terlalu sakit. Tapi selalu merasa bahagia jika mengingatnya. Dialah penawar dari semua penat hariku. Aku tak pernah berspekulasi apapun tentang dia dan Tuhan. Entah apa yang dia ucapkan pada Tuhan sebelumnya. Hingga dengan jahatnya ia meninggalkanku. Demi satu konspirasi yang tak pernah aku pahami.
"dia baik-baik saja." ucap ayahku ketika ia pulang.
Sebenarnya saat itu, aku melihat ada keraguan di mata ayah. Tapi segera aku tepis dan mencoba menenangkan diriku sendiri.
Tapi? Ayah membohongiku demi etika profesinya untuk merahasiakan apapun keadaan pasien pada orang lain.
Hingga aku speechless. Ingin sekali berteriak mengapa aku tidak boleh mengetahui hal yang sebenarnya? Kenapa?! Kenapa, Ayah?!!
Apa aku tak bisa miliki kebahagiaan? Ketika lara datang yang membahagiakan, mengapa ia pergi meninggalakan lara yang menyakitkanku. Aku rasakan langit runtuh. Ya, itu aku. Aku yang jatuh. Aku yang bukan langitnya lagi.
Sampai dia pergi. Aku gamang. Aku bingung.
Aku masih sulit membedakan di mana aku sebenarnya?
Lara. Aku Langitmu. Dengarkan aku...
.langit untuk lara
.sahabat
Sabtu, 31 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar